Ilustrasi (Pixabay.com)

“Hai Penyair!” An memanggil seorang lelaki yang sedari tadi asyik duduk dipinggiran danau kampus. Lelaki yang tidak pernah lepas dari pena dan juga kertas.

“Ada apa, Tuan?” Si Penyair menghentikan aktivitas menulisnya. Beralih memperhatikan An yang semakin lama semakin mendekat.

“Bergabunglah dengan organisasiku! Kamu akan lebih bermanfaat disana,” ujar An sambil duduk disamping si Penyair.

Si Penyair tersenyum kecil kemudian kembali melanjutkan aktivitas menulisnya. Merangkai puisi seperti biasanya. Hampir seluruh mahasiswa mengenal si penyair. Bukan karena ia rajin mengirim tulisan ke majalan kampus atau pun sejenisnya. Tidak sama sekali. Ia tidak terobsesi untuk menjadi terkenal. Kata si Penyair, beberapa teman dekatnyalah yang justru mengirim tulisan-tulisan tersebut. 

“Kau tidak bisa begini terus. Orang-orang harus tahu bahwa kau punya bakat!” ucap seorang temannya. Dan ia pun hanya tersenyum kecil sembari menyeruput kopi yang mulai dingin.

Merasa diacuhkan, An kembali berujar: “Aku bicara padamu, Tuan. Ini tawaran yang bisa jadi tidak datang dua kali”. “Ketua organisasiku sendiri yang memintamu”.

Si Penyair masih bersikap tak acuh, bahkan kali ini ia meraih sebatang rokok dan korek api dari sakunya. Spontan, ia pun menawarkannya kepada An.

Lelaki berkemeja kotak-kotak itu mulai merasa kesal. Baru kali ini ia di tak acuhkan sebegitunya. Benar kata temannya, bahwa si penyair memang seseorang yang sangat menyebalkan. Seperti hidup di duniannya sendiri, tanpa adanya orang lain.

“Aku tidak harus masuk organisasi untuk menjadi seorang yang bermanfaat,” akhirnya si Penyair angkat bicara. Matanya melihat langit yang mulai berwarna kemerahan, sebentar lagi adzan magrib berkumandang.

“Sombong sekali kamu!” respon An yang mulai marah. Dua puluh menit waktunya terbuang sia-sia akibat meladeni si penyair. Seharusnya sedari awal dikatakan saja jika memang tidak ingin bergabung.

“Hahaha…” tawa si Penyair pecah, meski tidak sampai mengundang perhatian para mahasiswa yang sedang berlalu lalang.

“Duduk-duduk! Nampaknya ada yang salah dengan dirimu wahai Aktivis!” Si Penyair mematikan rokoknya sambil menepuk-nepuk tempat duduk yang tadi diduduki An. Dari sorot matanya, bisa dilihat bahwa si Penyair serius dengan apa yang ia ucapkan. Sebab bagi banyak orang, sorot mata adalah penguatan dari kata-kata.

“Beri tahu aku, kenapa aku harus bergabung dengan kalian? Padahal teman-temanku rajin mengirim tulisanku kepada kalian. Lantas, untuk apa lagi aku?”

Akhirnya, pertanyaan tersebut keluar juga dari mulut si Penyair. Wajah An terlihat sumringah. Ini adalah kesempatan bagus untuk membawa si Penyair ke dalam organisasinya.

“Kita bisa berkolaborasi wahai Penyair. Kamu bisa memberi koreksi kepada organisasiku pun kami juga bisa mengkoreksi karya-karyamu. Selain itu popularitasmu akan naik. Akan banyak perempuan yang mendekatimu. Bukankah itu hal yang sangat menarik bagi seorang lelaki?” ada perasaan aneh yang menyergap An ketika berkata soal popularitas. Padahal sebenarnya bukan itu yang mau diungkapkan.

“Ada lagi?”

“Kamu akan belajar berorganisasi. Kamu akan punya banyak kenalan. Kamu..”

“Cukup, Tuan. Aku tidak ingin mendengarnya lagi,” kata si Penyair datar.

An pun mengerutkan keningnya. Lalu bergumam: mau apa sebenarnya orang ini?

“Pulanglah. Jawabanmu itu tidak akan membuatku bergabung,” 

Sayup-sayup terdengar suara adzan magrib. Lelaki dengan rambut gondrong itu pun bangkit dari duduknya, bergegas pergi. Dia meninggalkan An yang masih bertanya-tanya dan merasa kesal.

“Hai, Penyair! Kau sudah membuang-buang waktuku!” teriak An, bertepatan dengan suara adzan yang telah usai.

Sosok yang dituju tidak menghiraukan teriakan An sama sekali. Semakin lama punggungnya bahkan semakin menjauh. Membuat darah An naik. Tiga puluh menit yang terbuang sia-sia. Dengan kasar, ia pun menarik tas-nya kemudian bangkit dan mengejar si Penyair. 

“Beri tahu aku, bagaimana cara membuatmu bergabung dalam organisasiku?” ujar An setelah emosinya reda. Kini mereka berjalan bersisi-an.

“Kau harus tahu. Apa yang kau sebutkan tadi sama sekali tidak aku butuhkan. Apalagi popularitas itu ! Tidak sama sekali !” jawabnya ketus, terlebih pada penekanan kata popularitas.

“Oke, aku minta maaf karena tadi emosi. Aku tahu, butuh kesabaran untuk menaklukkan orang sepertimu,” An berdiri dihadapan lawan bicaranya. An merasa sudah setengah jalan, dan tidak mau menyerah?

“Dekatilah wanita gila di dekat stasiun ! Jika kamu atau temanmu bisa menjadi teman baiknya, maka aku akan bergabung. Permisi!” kata Penyair sesaat sebelum beranjak.  

Langit sudah gelap, lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Lelaki gondrong itu telah benar-benar hilang dipandangan. Pergi dengan sebuah angkutan umum, meninggalkan An dengan pertanyaan-pertanyaan. Untuk apa mendekati wanita gila? Apa benar wanita itu kekasih dari si Penyair? Seperti yang digosipkan banyak orang.

***

“Kenapa kita harus ajak dia bergabung, Bang?”

“Karena dia mulai populer, An. Jika dia bergabung dengan kita maka organisasi kita akan semakin dilirik orang. Keren bukan?” Jawab Haris dengan semangat. Lelaki berperawakan besar itu memang selalu bersemangat jika membicarakan organisasi. Organisasi memiliki daya magis yang luar biasa bagi Haris. Ya,  begitulah yang An lihat. Tetapi kali ini, An sedikit kecewa. Popularitas.

“Apakah kepopuleran itu sangat penting, Bang? Bukankah itu bukan tujuan utama organisasi ini? Bukankah… “

“Sudahlah, An. Jika kamu memang tidak mau menjalankan tugas ini, biar yang lain atau bahkan aku saja!” 

“Bukan begitu, Bang“ Bela An. “Bukankah ini tidak adil? maksudnya, ini tidak sesuai prosedur keanggotaan?” 

“Kalau masalah itu, biar aku saja yang urus.” Nada bicara Haris kembali biasa.

***

Akhirnya setelah sepuluh menit berada di peron kereta, An keluar dari stasiun. Indra penglihatannya segera mencari sosok wanita yang biasa berada di emperan ruko. Wanita gila itu memang biasa tidur di emperan toko, sebelum akhirnya akan diusir oleh pemilik toko karena dianggap menganggu pembeli. Itu saja yang An tahu mengenai si wanita. Tetapi kata temannya, wanita itu akan pergi entah kemana ketika siang dan sore hari. Ia baru akan kembali ke ruko di malam hari.

“Wanita itu,” ujar An pelan. 

Si wanita sedang duduk di emperan toko sambil memeluk lututnya. Tatapan matanya kosong. Jika dilihat sekilas, wanita itu terlihat sangat biasa. Tidak gila. Apalagi pakaiannya tidak compang camping seperti orang gila pada umumnya. Ditambah dengan wajahnya yang bersih, wanita itu sangat terurus. Wanita gila yang terurus, begitu orang-orang menjulukinya. Katanya, si Penyairlah yang merawat wanita tersebut.

An memperhatikan wanita itu dengan seksama, melihatnya dari bawah ke atas. Apa yang menyebabkan ia gila? Wajahnya cantik. Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa dulu si wanita adalah seorang mahasiswa yang pandai? Berbagai pertanyaan pun muncul di kepala An.

Dengan perlahan, langkah kaki An menuju kepada si wanita. Menurut info dari temannya, wanita gila ini tidak galak. Ia hanya sering melamun sambil berucap sesuatu yang entah apa. 

An berjongkok, menawarkan sebuah nasi bungkus kepada si wanita. Si wanita tidak menghiraukan. Hati An teriris. Ada apa dengan wanita ini? 

“Kamu sudah makan atau belum?” tanya An pelan, sambil menatap dalam-dalam mata si wanita. Berharap si wanita bisa melihat ketulusan hati An.

“Haris?” ujar si wanita. Matanya menatap kuat bola mata An.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.