Tindakan adalah sejauh-jauh fikiran. Tapi, tindakan tak akan mampu melampaui maha luasnya fikiran yang mampu merancang banyaknya ide-ide dan gagasan serta menyusun tindakan. Bahkan, fikiran dapat melalui batas-batas tindakan, termasuk memikirkanmu. Hanya memikirkanmu.

“Mengapa begitu?” tanyamu padaku lewat chatting messenger

“Bukankah kita dalam keterbatasan yang sudah sama-sama kita mengerti?”

“Ya, aku paham,” 

Kau tak mendebatku seperti biasa. Menurutmu, ada rasa enggan mendebat hal-hal penting dan mendasar jika setiap obrolan kita mengarah ke soal usia, keluarga dan keterikatan.

Dan ketika obrolan tentang hal krusial itu berhenti, kau atau aku akan mengalihkan pembicaraan ke tema yang lain. Misalnya, soal kesetaraan gender. Kau mengaku mulai mendalaminya dalam beberapa kasus.

“Sekarang aku paham, ini hanya soal berbagi peran, berbagi tugas dan berbagi tanggungjawab. Bahwa perempuan punya hak yang sama melakukan dan menduduki apa saja,” katamu.

Atau obrolan kita akan sampai ke beberapa karya cerpen seniman-seniman besar. Sebut saja tentang dunia Sukab dalam Cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma dan surat balasan Alina kepada Sukab.

“Aku tak terlalu suka balasan surat Alina. Dia, Alina, terlalu jauh membalas surat Sukab dalam kontemplasi akhir dunia,”.

“Kau semakin pintar,” kataku.

“Kau hanya memuji,”

“Bukan, kau lekas beradaptasi,”

“Hanya begitu saja?”

“Aku memintamu, menulislah,”

“Aku buruk soal tulisan, aku hanya penikmat,” katamu.

Lalu di lain waktu, obrolan kita juga tak jarang sampai pada hal-hal terkini seperti demonstrasi.

“Terkadang di luar nalar dan perencanaan,” katamu.

“Kufikir semua menjadi bagian ter-ejawantahkan-nya pemikiran, bukankah dia melampaui batas tindakan?”

“Fikiran maksudmu? Kadang aku sulit memahamimu,”

Pembicaraan kita lewat messenger, telepon atau pesan singkat whatsapp akan berakhir pada pertanyaan yang serupa sejak kau beranjak kembali ke kotamu.

“Lalu, kapan kau akan datang?” tanyamu.

“Aku sedang menyusun jadwal,” 

“Menurutmu kemana kita akan pergi?”

“Ke dermaga yang kau sebut itu,” 

“Baiklah, aku juga tak memaksakan jika harus kesana. Yang terpenting adalah bertemu kau, dan hanya denganmu, tak lebih,”

Aku tak lekas menjawab. Kutahu, jadwal yang kusebut itu adalah masa depan. Masa dimana sisi kemanusiaanku berada dalam ketidakpastian, meski, semangatku ke kotamu cukup besar, bahkan amatlah teramat begitu besar.

***

Setiap kali obrolan kita berhenti. Fikiranku kembali ke waktu itu. Ketika malam beranjak tua dan angin ringan berhembus pelan menyapu pantai. Ketika itu pula kau menyampaikan pesan tersirat dari gerak tubuhmu: senyum dan tatapan yang jelas kuanggap sebagai berawalnya obrolan-obrolan, lantas bersepakat memiliki keinginan yang sama untuk bertemu kedua kali.

Kita berjalan menyusuri pantai dan bersepakat menjauh dari keramaian. Tempat sepi mengasyikkan untuk berbincang tentang apa saja, dengan alasan apa saja dan mengakhirinya kapan saja. Begitu menurut kita.

Lantas kita memilih duduk-duduk di selasar pantai di bawah cemara: bersebelahan-tidak begitu dekat. Aku terdiam. Kau juga terdiam beberapa saat dan hanya mendengar ombak-ombak kecil menyapu pasir. Di kejauhan, lampu penanda di haluan perahu nelayan berkedip-kedip di antara gelap.

“Kita seperti diintip,” katamu.

“Mengapa begitu?” tanyaku.

“Bukan karena lampunya, tapi nelayannya. Tentu tempat duduk kita ini lebih terang ketimbang di tengah laut kan?”

Hmmmmmm,”

“Kau mengatakan ya?”

Aku tak menjawab. Hanya melihatmu. Menatapmu dengan begitu serius dan cukup lama. Sementara kau memalingkan wajahmu dan mengalihkan pandanganmu ke tengah lautan. 

Tak lama dalam obrolan yang tersendat-sendat itu, kita berjalan menyusuri paving block yang disusun rapi membentuk jalan setapak. Entah dengan alasan apa, saat akan tiba di keramaian, kita menyusuri ulang paving block itu. Ada yang harus diulang. Menurutku begitu. Dan, kau menurut dalam kehangatan. Sangat hangat.

***

Pantai, obrolan, nyiur angin dan kehangatan itu berlanjut dalam obrolan-obrolan lain setelah kau pergi dari kotaku. Sesaat ketibaanmu di kotamu, sebuah pesan kuterima. 

“Aku sudah sampai,” katamu.

“Jaga kesehatanmu,” jawabku.

Obrolan kita seperti kepastian pagi. Akan selalu datang menggantikan gelap meski dalam irama dan kesyahduan yang berbeda.

“Mungkin karena fikiran kita,” katamu. Pagi itu, aku membangunkanmu dan berencana akan membangunkanmu setiap pagi.

“Entahlah, kau hadir begitu tiba-tiba dalam kehidupanku dan lantas mengisi ruang-ruang kerinduanku. Mengisi imajinasi terliarku. Denganmu adalah yang terliar. Belum pernah kurasakan ‘seliar’ ini, dan aku nyaman menikmatinya,” kukatakan itu dalam pesan singkat.

Kau mengaku merasakan hal yang sama. Kau pun bercerita tentang pertemuan singkatmu dengan seorang laki-laki lain saat di perjalanan ke kotamu. Lelaki yang dalam standarmu menarik, humoris dan menggelitik rasa ketertarikanmu.

“Sepertinya dia juga tertarik padaku sebagaimana aku tertarik padanya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati ini hingga aku tak mau memberi kontak waku padanya. Padahal pada saat itu jelas-jelas aku sangat ingin punya pacar. Ahhh. Astaga, aku tak tahu apa mau ku,”

Katamu, kalian bercerita singkat, sangat singkat. Walau yang kutangkap dari ceritamu, kau sempat menyatakan sesuatu tentang kekosonganmu.

“Aku yakin dia pasti mengira aku berbohong kalau aku sedang tidak punya pacar,” katamu.

Aku membaca pesanmu dengan hati-hati.  Kurasakan diriku bergetar, tanganku juga bergetar, sampai-sampai aku tak hendak membalas pesanmu karena takut tulisanku akan menyiratkan perasaanku yang bergetar.

***

Di penginapan tua di tepian danau kutinggalkan secarik kertas. Kutulis namamu dan namaku bersisian. Hanya namamu dan namaku, seolah tiada nama lain yang boleh tertera di secarik kertas itu.

“Mengapa?” tanyamu.

“Soal bersisian atau soal namamu dan namaku?”

“Keduanya,”

Aku tak menjawab. Hanya menatapmu demikian serius persis seperti menatapmu di tepian pantai, saat semua ini dimulai. Dan kali ini, kau tak hanya memalingkan wajahmu, tapi pergi dan berlalu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.