Dr. Manmohan Singh, Perdana Menteri India 2004 – 1014 mungkin tak pernah menyangka sebagian besar cerita kepemimpinan dan kehidupannya di pemerintahan India bakal diketahui banyak orang. Bukan hanya soal cara Manmohan mengambil keputusan, melainkan juga tentang dinamika dan intervensi politik pemerintahan dari sekutu dan lawan politiknya. 

Apalagi, Manmohan Singh sebenarnya juga bukan orang baru dalam pemerintahan India. Sebagai ahli ekonomi, sebelum menjadi Perdana Menteri India, Manmohan pernah ditunjuk sebagai Gubernur Bank Sentral, Menteri Keuangan dan sejumlah jabatan lainnya.  

Kapasitas politik Manmohan yang diragukan menjadi pokok cerita film Bollywood ini. Manmohan yang terpilih secara tidak sengaja –dianggap kecelakaan– akhirnya justru mampu melampaui prediksi banyak pihak. Dia berhasil menjadi pemimpin yang membuat program kerjasama pengembangan teknologi Nuklir dengan Amerika Serikat (AS). Suatu alternatif energi yang sangat dibutuhkan India kala itu (Tahun 2006) untuk mendukung kebutuhan energi dan perkembangan ekonomi.   

Di dalam negeri, kapasitas Manmohan pun semakin teruji. Pada 2009, dirinya berhasil membawa partainya (Partai Kongres pimpinan Sonia Gandhi) mendapat dukungan suara tertinggi dalam pemilihan umum. Manmohan kemudian memiliki kesempatan menjadi Perdana Menteri India kembali. Dan, tentu saja, ini karena prestasi Manmohan, dan bukan karena keberuntungan atau belas kasih orang lain. 

Keberhasilan pemerintahan Manmohan memang didukung banyak pihak. Namun, dalam film yang diadopsi dari buku laris di India berjudul sama ini, ada peran unik yang dimainkan Sanjaya Baru (penulis buku ‘The Accidental Prime Minister’), seorang analis dan komentator politik populer di India. Baru yang ditunjuk sebagai Pengarah Media dan Juru Bicara Perdana Menteri Manmohan Singh ini memegang kunci saat pemerintahan Manmohan menghadapi situasi-situasi kritis dan membuat Manmohan berhasil mengatasinya.    

Petugas Partai 

Sekilas, nasib Manmohan Singh hampir mirip dengan Joko Widodo yang juga didaulat sebagai petugas partai. Hanya saja bedanya, Joko Widodo menjadi Presiden lantaran terpilih dalam election, sementara Manmohan Singh benar-benar ditunjuk (sebagai Perdana Menteri) oleh partai yang memenangkan pemilihan umum dan ditunjuk untuk membentuk pemerintahan (ciri khas sistem parlementer).

Nama Manmohan Singh yang muncul tiba-tiba praktis mendapat keraguan banyak pihak. Manmohan yang lebih kompeten di bidang ekonomi, dinilai takkan berhasil memimpin pemerintahan dalam waktu lama. Manmohan bisa ‘dimundurkan’ sewaktu-waktu bila tak bisa memimpin dan menyenangkan koalisi politik pemerintahan.  

Terlebih, Manmohan dinilai lemah. Tanpa pengalaman politik dan dukungan kekuatan politik riil, Manmohan dianggap tak punya posisi tawar (bargaining) apapun. 

Beruntung, Manmohan memiliki dukungan sejumlah orang baik di sekelilingnya. Orang-orang baik itu percaya amanat kepemimpinan harus dijalankan sebaik-baiknya dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bermodal keyakinan itulah, Manmohan akhirnya berhasil melawan dan membuang kesan ‘petugas partai’.   

Film ‘Politik’ Ringan 

Sebagai film bertema politik, film ini terasa cukup ringan. Sebab, sepanjang mata memandang, balutan komedi khas India memenuhi unsur bagian film ini. Joke pendek (dengan nada dan mimik khas Bollywood) yang bersumber dari adegan yang sedang berlangsung. 

Salah satunya, saat Manmohan memanggil mendadak Baru karena mendapat laporan dari atase India di Amerika, terkait perkembangan kebijakan Nuklir di India. Adegan serius tiba-tiba berubah menjadi sangat bernilai komedi saat Manmohan tahu bahwa arti daripada ‘Que Sera-Sera’ adalah ‘yang terjadi pasti akan terjadi,’.   

Sosok Baru memang menjadi kontributor dominan yang membuat film ini sarat komedi. Baru yang ditempatkan menjadi ‘penuntun’ cerita seringkali memberi jokedi antara jeda cerita film.    

Akting dua tokoh utama: Manmohan Singh (Anupam Kher) dan Sanjaya Baru (Akshaye Khanna) terbilang cukup memuaskan. Anupam meski tak harus mirip 100 persen dengan Manmohan, terasa cukup meyakinkan menjadi Perdana Menteri ‘lemah’ ini. Dimulai dari cara berjalannya, gaya bicaranya dan penampilannya di depan podium.  

Sementara Akshaye benar-benar bisa memainkan peran komentator dan analis politik Baru sekaligus. Dalam beberapa kesempatan, dengan menempatkan analisis Akshaye –film berplot maju mundur ini- mengajak kita memprediksi adegan-adegan berikutnya. Dan, tentu saja, Akshaye berhasil memerankan hal itu.   

Sayangnya, film ini hanya ditayangkan terbatas di bioskop CGV. Itu pun hanya untuk CGV yang beroperasi di area Jakarta (saat review ini dirilis, film bahkan hanya ditayangkan di Bella Terra, Kelapa Gading). Anda harus mengeluarkan segenap effortuntuk menyaksikan film berdurasi 111 menit ini.  

Dari bangku penonton, Kita menunggu sutradara-sutradara film Indonesia membuat film bergenre politik namun tetap berkonten ringan. Setuju !

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.