Hingga kini, rasanya tak banyak film bergenre action-thriller yang layak ditonton. Kalaupun ada, tema film pastinya akan berkisah soal mafia narkoba, gangster, pembunuhan dan kejahatan sadistis lainnya.  

Lalu bagaimana jika film-nya justru bertolak pada tragedi teror yang berdasar kisah nyata. Film yang praktis memuat informasi sejarah (History) tersebut semestinya sangat layak ditonton.

Hotel Mumbai (2019) berkisah tentang serangan teror biadab yang pernah terjadi di kota Mumbai, India, pada tahun 2008 lalu. Kejadian yang mengakibatkan 188 orang tewas dan 370 orang cedera ini, salah satunya berlokasi di Hotel Taj Mahal Palace (Red: Hotel Mumbai)–sebuah hotel mewah bintang lima yang menjadi ciri khas kota Mumbai-. Teror yang terjadi di hotel ini menjadi kisah dominan dalam film yang berdurasi hampir 2 jam tersebut.   

Film bermula dari adegan 10 orang pelaku terorisme yang menuju Mumbai. Dengan bermodal tas ransel (carrier) dan headset handphone, 10 orang ini dipandu untuk melakukan aksi teror di sejumlah titik lokasi di Mumbai. Mulai dari stasiun kereta api, kafe, kantor polisi dan yang terakhir Hotel Taj Mahal.

Tak ayal, suasana mencekam pun terasa sejak awal bagian film. Desing senjata yang terus menghentak, pemandangan orang tertembak tiba-tiba, dan pemberondongan seenaknya, hampir pasti membuat jantung siapapun berdegup kencang. Selang 30 menit pertama, adegan dipenuhi aksi-aksi pelaku teror membangun teror dan menguasai Hotel Mumbai.  

90 menit berikutnya film diisi dengan upaya-upaya evakuasi dan penyelamatan. Drama dan ketegangan hadir silih berganti selama waktu tersebut. Tak ada yang bisa memastikan, siapa saja yang bakal selamat dalam penyanderaan yang dikisahkan berlangsung selama 12 jam tersebut. 

Ketegangan dan kekhawatiran bahkan bercampur-baur saat melihat seorang bayi yang ikut terjebak dalam kejadian. Hingga film berakhir, upaya penyelamatan bayi ini oleh pengasuhnya, berhasil membuat penonton deg-degan dan khawatir dengan kehidupan sang bayi.   

Meski akhir cerita film ini akan seperti film kebanyakan, (pelaku teror tewas dan banyak tamu yang akhirnya selamat) namun jalan cerita film ini sungguh tidak mudah ditebak. Sebab, anda tak bisa memastikan siapa tokoh yang akan selamat dan terus hidup hingga akhir cerita.  

Beruntungnya, meski bertema aksi teror, film tak ditampilkan dalam suasana sadis. Tak ada pisau yang menancap di kepala, darah berlebihan, dan otak atau jeroan yang berceceran di lantai. Sang Sutradara (Anthony Maras) tampak cukup mampu membangun suasana ketakutan dengan desing peluru dan backsoundyang menegangkan. Namun demikian, lantaran bernuansa teror, desing senjata api mewarnai hampir seluruh isi film. Desing baru berhenti saat para pelaku berhasil dilumpuhkan di menit-menit terakhir cerita film.   

Jihad ‘Keliru’

Selain memotret serangan teror biadab dan upaya penyelamatan di hotel Taj Mahal, film Hotel Mumbai juga memberi pesan tindakan Jihad –perjuangan agama- yang keliru. Para pelaku yang dikisahkan sedang memperjuangkan keyakinannya, akhirnya harus menjadi korban pemahaman yang keliru. 

Pada awalnya, seluruh pelaku teror meyakini bahwa tindakan mereka seperti ibadah suci. Tindakan tersebut bahkan harus dilakukan untuk membalas tindakan terhadap saudara mereka (seagama) yang disebut pelaku sedang dan tengah dizalimi. 

Akan tetapi, dalam satu adegan, salah seorang pelaku bernama Imran (Amandeep Singh) akhirnya bingung dengan konsep jihad ini. Sebab, semua sandera termasuk yang beragama Islam sekalipun harus dibunuh. Zahra (Nazanin Bodiadi), tamu perempuan Hotel Mumbai yang spontan membaca ayat-ayat suci, batal dibunuh. Kebingungan terhadap apa yang sedang dilakukan akhirnya membuat Imran membuang senjata dan tak mau membunuh Zahra.

Akting Hebat 

Setidaknya ada 4 tokoh yang layak mendapat apresiasi dalam film ini, lantaran aktingnya yang luar biasa. Mereka diantaranya Dev Patel (Arjun), Anupam Kher (Hemant Oberoi), Nazanin Bodiadi (Zahra), dan Amandeep Singh (Imran). Keempat tokoh tersebut membuat   

Dev Patel yang berperan sebagai Arjun, membuat cerita ini menarik. Arjun yang harus menghidupi anaknya yang berusia 3 tahun dan istrinya yang sedang hamil, menyebabkan dirinya terpaksa masuk hari itu. Terperangkapnya Arjun dalam suasana teror tersebut membuatnya berada dalam posisi dilematis: melarikan diri (karena tahu persis kondisi Hotel Mumbai) atau bertahan dan membantu upaya penyelamatan tamu hotel. 

Bersama Oberoi, Arjun membuat berbagai upaya penyelamatan. Mulai dari memindahkan tamu ke executive lounge, hingga penyelamatan terakhir melalui jalan keluar darurat. Duet peran Dev dan Anupam membuat suasana penyelamatan terasa begitu dramatis.  

Sementara itu, akting Nazanin Bodiadi berhasil membuat perasaan geram anda naik-turun. Pasalnya, kegamangan dan kekhawatirannya terhadap nasib keluarganya di dalam hotel, membuat kecemasan dalam film ini menjadi hidup. Tidak hanya sekedar menangis, ekspresi kekhawatiran, cinta dan keteledoran tampil orisinal dalam wajah seorang Nazanin.   

Terakhir, akting yang layak dipuji adalah Amandeep Singh (Imran) yang menjadi algojo pembunuh banyak orang. Amandeep ditampilkan sebagai sosok berdarah dingin, yang menembaki tamu dan sandera secara membabi buta. Apalagi saat wajah Amandeep ditampilkan detil. Meski terasa tidak sangar, wajah dingin Amandeep berhasil membangun suasana mencekam. 

Akantetapi, sosok Imran berubah 180 derajat saat dirinya menghubungi keluarganya. Imran yang dikisahkan punya motif ekonomi dalam melakukan aksi teror tersebut, menanyakan perihal uang yang dijanjikan (Saudara Bull-Pemandu aksi teror) untuk keluarganya. Sayang, hingga Imran tewas diberondong peluru oleh pasukan keamanan, janji tersebut tidak juga terpenuhi.   

Saat menonton film ini, hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah bersama siapa anda akan menonton ini. Saya menyarankan Anda tidak membawa orang-orang yang berpenyakit jantung, mudah panik dan phobia terhadap film action

Sebab, jika tidak, anda mungkin akan bernasib sama dengan saya. Pasangan saya tak mau melanjutkan film, saat durasi baru berlangsung 30 menit. Alhasil, saya harus sendirian menonton film ini selama 90 menit kemudian.  

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.