Mata uang dolar kembali bergerak menguat dalam perdagangan kemarin. Pasalnya, investor tampak sedang fokus untuk mengikuti lelang obligasi. Arus modal sedang terkonsentrasi di pasar surat utang pemerintah, sehingga bursa saham pun hanya kebagian sejumlah dana. 

Tingginya aliran modal ke pasar obligasi ini membuat imbal hasil (yield) bergerak turun di hampir seluruh tenor. Nah, ini yang mengkhawatirkan karena yield tenor 3 bulan dan 10 tahun sama-sama turun, jarak keduanya semakin jauh. Masih terjadi inversi, di mana yield untuk 3 bulan relatif lebih tinggi ketimbang 10 tahun. 

Komentar Dovish dari Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi yang mengirim sinyal mengkhawatirkan tentang melambatnya pertumbuhan ekonomi zona euro dan kemungkinan akan menggelontorkan stimulus kembali guna menstabilkan ekonominya pasca Brexit dan Perang dagang, menambah daya tarik dolar. 

Apalagi sebelumnya, Draghi mengatakan ECB dapat menunda menaikkan suku bunga dan masih memiliki alat lain untuk mendukung perekonomian. Pada saat bersamaan, Braghi mengakui bahwa zona euro memang sedang mengalami penurunan permintaan eksternal terus-menerus.

Dinamika Brexit di Inggris menambah sentiment negatif Euro. Tawaran Perdana Menteri Theresa May yang kembali ditolak parlemen menguatkan investor untuk memiliki dolar sebagai alternatif save heaven. 

Akan tetapi rilis data transaksi berjalan Amerika Serikat yang mengalami defisit sebesar 4,885 miliar dolar atau sebesar 2,4 persen PDB berpeluang mengubah laju dolar. Sebab, dengan defisit terdalam AS sejak tahun 2008 itu, pasar rentan bereaksi negative. 

Di akhir pekan, meski berpeluang berbalik arah, rupiah tetap diprediksi bergerak melemah di level 14.204 – 14.270 per dolar. Pada pukul 09.45 WIB, rupiah bergerak positif dan diperdagangkan di level 14.230 per dolar. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.