Teluk Roban, seirama daun bakau berayun-ayun di pinggiran danau-danau buatan yang di permukaan airnya angin berdesir menyebabkan gelombang air bergelung ringan ke tepian, lalu mengayunkan perahu yang tertambat di tembok penahan tanah. Perahu itu sepekan lalu ditinggal pemiliknya selepas memandangi lautan berjam-jam dan lantas memutuskan berhenti mengarungi teluk dan lautan.

Tanggul Teluk Roban, memanjang sejauh rerumputan hijau yang dilindas ban sepeda bocah-bocah selepas ujian sekolah. Mereka bernyanyi mengiramakan tepian pantai yang dahulu hanya dicapai dengan berenang, atau mengayuh perahu tapi kini berada di pupuk mata.

“Ingat saat masih usia dua tahunan? Aku, kau, ibumu dan ibuku ke pantai ini naik perahu. Dan sekarang kita bersepeda,”

Teluk Roban, menunggui remaja pria yang duduk-duduk menjuntaikan kakinya di jembatan tanggul sambil mengurai kenangan-ketika sepuluh hari lalu melepas usia tujuh belasan tahun dan tiba-tiba merasa mencapai kematangan yang penuh, usai berkenalan dengan perempuan ayu yang usianya lima tahun di atasnya. 

Tatapannya mematut permukaan air menelisik refleksi yang memantul. Tapi sebab permukaan danau jauh di bawah telapak sepatunya. Karenanya bayang-bayang wajahnya berserak-serak bahkan terkadang hilang tak terlihat, apalagi jika daun-daun Teratai yang tercerabut dari batangnya melintas mengikuti arus. 

“Jika nanti Tuhan mengabulkan semua doa kita, di tepian Tanggul ini akan kubangunkan gubuk buatmu, buat kita dan buat anak-anak kita,” kata Pria itu dua malam lalu di jembatan yang sama.

“Apakah Tuhan senang dengan Tanggul ini?” tanya perempuan itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.