Pada tahun 2018, sejumlah pihak khawatir krisis keuangan bakal terjadi di Asia, dimana Indonesia biasanya juga takkan luput dari pusaran krisis. Salah satu sebabnya, siklus krisis keuangan yang selalu terjadi setiap 10 tahun sekali. Sebagai contoh, krisis moneter 1998 dan krisis keuangan global 2008.

Meskipun berujung pada robohnya nilai tukar mata uang masing-masing negara Asia, namun kedua penyebab krisis ekonomi tersebut dianggap berbeda. Krisis ekonomi 1998 disebabkan oleh ketidaksinkronan antara kebijakan capital flow (arus modal) dan kebijakan nilai tukar (kurs) di negara Asia, sementara krisis ekonomi 2008 dimulai dari krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat.

Namun, watak krisis yang mengalami siklus ini ternyata senantiasa diingatkan Mohammad Hatta atau Bung Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia pertama yang juga merupakan ekonom. Bung Hatta, misalnya, menyebut kapitalisme sebagai penyebab perekonomian cenderung mengalami krisis berulang. Faktor utamanya, upaya pencarian untung dan penambahan penghasilan secara terus menerus oleh sekelompok orang yang rakus. Oleh Bung Hatta, motif serakah tersebut dianggap merusak perekonomian secara keseluruhan lantaran muncul kondisi over produksi atau kelebihan produksi barang.

“Perlombaan kaum kapitalis dalam mencari untung dan menambah penghasilan merusak perekonomian makro karena timbul over produksi. Akhirnya banyak lagi firma-firma yang ambruk. Karena itu timbul lagi krisis…” (Drs. Mohammad Hatta, Daulat Rakyat).

Kondisi kelebihan produksi itu kemudian membuat banyak perusahaan mengalami kerugian, lalu akhirnya jatuh dan bangkrut. Mengapa? karena barang-barang produksi yang berlebihan tadi juga tak bisa djual secara untung. Pemodal atau pemilik pabrik lebih memilih membuang atau memusnahkan barang-barang produksinya ketimbang menjualnya secara merugi.

Walaupun demikian, perekonomian dunia selalu mampu mengobati krisisnya. Setelah krisis terjadi, sejumlah pemilik pabrik biasanya berkeras hati untuk bekerja menjalankan usaha hingga keuntungan naik kembali dan mereka kembali berlomba mencari keuntungan dan berebut mencari wilayah pasar yang baru. Namun, sayang, setelah itu krisis pasti muncul kembali karena pemodal atau pemilik pabrik semakin mencari untung sebanyak-banyaknya.

“Setelah krisis itu, kelihatan perekonomian naik sedikit….. Lambat laun timbul kekerasan hati pada beberapa kaum kapitalis, kerap juga orang baru, memberanikan menjalani usaha baru. Kenaikan harga itu –yang terjadi- menggerakkan hati kaum industri untuk memperbesar keuntungan mereka. Mereka berlomba-lomba kembali mencari keuntungan dan kembali berebutan mencari serta merampas pasar.” (Drs. Mohammad Hatta, Daulat Rakyat)

Pikiran Bung Hatta soal motif pencarian untung secara serakah sebagai akar penyebab krisis berulang, tentu masih relevan dengan rangkaian krisis ekonomi yang pernah terjadi kini. Pasalnya, jika ingin jujur, aksi spekulasi pembelian dolar Amerika Serikat (AS) secara besar-besaran pada krisis 1997-1998 dan gelembung kredit perumahan (Housing Bubble) di AS pada 2008 sesungguhnya merupakan imbas dari keserakahan. Keinginan untuk mendapatkan untung dalam jumlah yang semakin besar membuat mereka mengabaikan kemaslahatan orang banyak.

Jika melihat praktek mencari keuntungan serakah masih begitu massif terjadi di dunia dan di dalam negeri, ragu kah Anda krisis ekonomi takkan berulang dalam waktu dekat. Terlebih, situasi di negara Paman Sam yang mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunganya beberapa kali saat ini, pastinya akan semakin menyudutkan negara-negara dunia yang lain. Tentu saja tak terkecuali bagi Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.