Sendawa Sukri

0

Aaaaaaaakkk,” suara sendawa pak tua Sukri, menggema serupa angin kencang membulat. Asalnya dari gubuk reot beratap rumbia yang nyaris nyungsep di tanah setengah petak, di sebelah tembok beton pabrik kayu di pinggir pemukiman Sungsang. Di tanah itu, Sukri menanam tembakau. Ia sekaligus bermukim di gubuk itu sejak lawas.

Pemukiman Sungsang berada di pinggir gunung. Dulu disebut pedalaman. Namun, waktu berlari buru-buru. Pagar-pagar tembok pabrik seperti ubi rambat menjalar mengepung pemukiman dan hanya sedikit saja menyisakan tempat, termasuk tanah sepetak milik Sukri.

Belakangan, Sungsang tak lagi pedalaman. Dari waktu ke waktu, Sungsang terus meluas. Jalan batu yang dahulu sekali dalam dua bulan ditata rapi ulang penduduk, kini berganti aspal. Sepanjang hari digilas truk-truk yang hilir mudik membawa kayu, papan, triplek, batu, pasir, semen dan apa saja. Asap, mengepul dari cerobong-cerobong seng pabrik kayu yang gergaji mesinnya terus bising. Sungsang kini, menjadi pemukiman padat pabrik. Seiring, orang-orang kota dengan kelakuan-kelakuan kota yang juga memadat.

Penduduk pemukiman Sungsang sebagian besar menepi, usai menjual habis tanah warisannya. Sebagian lagi memilih merantau ke luar pemukiman. Yang lainnya, masih bertahan dan menolak menggadaikan tanahnya kepada para pengusaha untuk disulap menjadi pabrik. Termasuk tanah sepetak milik Sukri.

Aaaaakkkk,” sendawa Sukri kembali menggumpal. Ia kekenyangan menyantap dua setengah ubi rambat bakar yang dingin. Sukri tak sempat mencicipi habis ubi itu tadi malam dan hanya menyantap beberapa saja, karena tiba-tiba hujan sesuka hati-selebatnya mengguyur pemukiman Sungsang. Sukri bergegas masuk gubuk menghindari tempias hujan dan menghangatkan tubuhnya dibalik selimut bau anyep.

Sukri memang terkenal sejak lawas saat usianya masih belia: karena sendawanya. Konon, tiap subuh sebelum pagi menyisihkan temaram di Timur, Sukri bersendawa berat. Penduduk akan terjaga.

Sendawa Sukri menyisakan kisah-kisah heroik. Pada suatu subuh, tiga kawanan pencuri akhirnya tertangkap saat menyatroni rumah kepala pemukiman. Penduduk terjaga tiba-tiba karena Sukri melepas Sendawa lebih pagi. Para pencuri dipergoki, dikerumuni, dipukuli dan diseret ke kantor polisi.

Di Subuh yang lain, saat pemukiman sudah memadati pabrik, sendawa itu menyelamatkan penduduk dari banjir dan longsor yang tiba-tiba menyapu apa saja. Meski barang dan harta benda lenyap, nyawa masih bisa selamat. Selain itu, masih banyak kisah heroik lain. Sendawa Sukri memang hebat keramat.

Saat pemukiman sudah berubah menjadi padat, pabrik-pabrik kayu juga menyusul membiasakan diri. Sendawa Sukri adalah alarm. Sebab usai menggelegar, karyawan mulai mengantri dan pabrik mulai berisik beroperasi.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk,” Sukri sendawa sekali lagi. Lebih deras dan lebih panjang dari dua sendawa sebelumnya. Barangkali berkat ubi rambat bercampur kangkung rebus dan air putih yang barusan ia santap. Ia terduduk mantap sambil melinting tembakau kering di kertas djanoko: membakar dan menghisapnya dengan dalam. Asap putih pudar mengepul berserak di depan wajahnya yang menua. Lamat-lamat, ia menatapi daun-daun tembakau menghijau di ladang miliknya. Daun-daun tembakau itu berkilau-kilau ditimpa serpihan cahaya baskara.

Dua minggu lagi, tembakau itu dipanen. Cukup untuk bekal rokok Sukri selama tiga bulan. Selebihnya, dijual di pusat pasar Sungsang. Uang penjualan tembakau, cukup membeli beras, ikan asin dan keperluan lain yang dibutuhkan Sukri. Jika bertepatan dengan musim ubi rambat, Sukri akan membeli beras lebih sedikit karena ia lebih sering memakan ubi rambat. Yang penting perut terisi, begitu prinsip Sukri.

“Landai-landai, gunung melandai, siapa pandai, rebutlah menggapai. Landai-landai angin bersantai, hidup serasa dirantai-rantai,”

Sambil berdendang menimang daun-daun tembakau kesayangannya agar merekah dan bersiap-siap menjemur embun, Sukri memandangi gunung di sisi timur pemukiman Sungsang yang setiap hari dikeroyok lusinan gergaji para pekerja pabrik: berebut kayu. Pohon-pohon kini menjadi barisan tentara dalam ritme yang rentang: berjarak-jarak. Gunung itu, sepanjang waktu mengadu pada langit dan matahari.

Dari atas sana, cahaya matahari melesat-lesat perlahan kemudian berpencar di langit. Pendaran cahayanya menerangi sebagian pemukiman. Wajah Sukri ikut terpapar pendaran cahaya itu, dan seketika ingatannya kembali di masa lalu: saat ia kecil. Ia dan teman-temannya berkejar-kejaran di kaki gunung. Menerabas jalan setapak di antara semak pohon dan belukar. Perang ketapel buah karet atau tanah liat adalah yang paling sering ia mainkan dengan teman-teman.

Di sisi barat gunung, ada beberapa anak sungai mengalir deras. Airnya bening menyegarkan. Daun-daun menyelam-nyelam mengikuti arus. Sukri muda dan teman-temannya sering menghabiskan waktu sampai senja. Dan saat hendak pulang, bocah-bocah itu mengumpuli kayu bakar untuk dibawa dan diberikan kepada para ibu di pemukiman. Sebagai ganjarannya, Sukri akan dapat beberapa potong jenang yang lezat dari para ibu.

Tapi kini gunung itu menua seperti Sukri. Pohon-pohon tua besar yang dulu menghiasi gunung dibabat tanpa ampun: sejengkal lagi akan habis. Anak-anak sungai tempat ia bermain dulu, kini tertimbun sisa pohon tumbang. Longsoran-longsoran kecil akibat bahu gunung yang keropos, menambah timbunan dan melenyapkan anak-anak sungai.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk,” Sukri terperanjat di posisi bersiaga. Ada sendawa lain. Bising suara dari mesin pabrik hanyut dalam sendawa itu. Sukri memandang sekeliling. Ia menangkap suara itu dari tembok di ujung kebun tembakau. Tepat di pintu pabrik. Ada seorang dengan perut membuncit dan pendek. Kancing bajunya nyaris lepas dari jahitan karena didesak perutnya yang berlebih.

Pria itu memakai kacamata hitam memancarkan pelangi. Rambutnya mengkilap disambar sinar matahari yang sudah muncul di ubun-ubun gunung. Di kiri dan kanan orang berbadan gempal itu, dua pengawal pria berpakaian serba hitam, seperti baju zirah berdiri tegap. Yang satu memegang tas dan beberapa telepon genggam, dan yang seorang lagi bertugas memayungi majikannya dengan payung kuning. Ia juga memegang botol hitam bertuliskan Swiss.

“Ngegragas,” sebut Sukri perlahan.

Nama itu, pernah ia dengar dari bisik-bisik karyawan pabrik yang kebetulan melintas di sebelah gubuknya. Ngegragas tak disukai karyawan pabrik. Tapi, karyawan yah tetap saja karyawan, patuh pada majikan, atau siap-siap saja diputus kerja: dilibas–digilas– lalu ditendang keluar dari pabrik.

Mata Sukri serius mengikuti gestur laki-laki berperut buncit itu. Arah langkahnya mencurigakan. Laki-laki bernama aneh itu, berjalan mendekati ladang tembakaunya. Berdiri berkacak pinggang di pinggir kebun Sukri.

“Apa gerangan pria aneh? Awas saja kau pijak tembakauku,” Sukri mengancam. Tentu saja hanya di hati.

Sementara di ujung kebun, Ngegragas memandangi tembakau yang daunnya berkilau-kilau. Sejurus kemudian, pandangannya beralih ke gubuk milik Sukri. Ia menguliti gubuk reot milik Sukri dengan tatapannya. Tiba-tiba, ia membuka kacamata pelanginya.

Hmmm, pondok siapa itu?” cerocosnya.

“Pemiliknya, namanya Sukri, tuan,” bisik pria tegap tinggi di telinga Ngegragas. Ia terpaksa membungkuk agar bisa berbisik di sebelah telinga Ngegragas.

“Siapa dia?”

“Orang pribumi tuan, penduduk lama disini. Dulu tanah pabrik ini miliknya,”

Ooouh. Lah kenapa yang sedikit ini dibiarkan?”

“Pak Sukri tak menjual semuanya sama nyonya dulu. Tanah ladangnya ini syarat, katanya disini ada pemakaman leluhur pak Sukri. Kalau diganggu bisa sial,”

Ngegragas manggut-manggut. Ia mengulurkan tangan kirinya. Pria tegap yang satu lagi buru-buru mendekatkan botol hitam bertulis Swiss ke tangan tuannya itu.

Glekkk..Aaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk,” Ngegragas sendawa kencang. Daun-daun tembakau terhenyak. Angin yang tadinya kencang ke arah pabrik berbalik arah kecut.

“Ada-ada saja kelakuan orang-orang konservatif disini. Tanah itu lahan bisnis, investasi termahal, mosok cuma diisi tembakau? Leluhur yah leluhur, tanahnya yah dibisniskan. Bilang sama nyonya, ini tanah disikat aja. Tuh pak tua dikasih duit, dia pasti mau. Kalau nolak, gilas!” Ngegragas berkata tegas.

“Tapi tuan, ini sudah syarat. Nanti kita sial. Pak Sukri berjasa besar di pemukiman ini, juga di pabrik kita. Apalagi tiap pagi. Kabar-kabarnya, pak Sukri tukang Sendawa. Sendawanya juga besar, bisa membangunkan orang-orang satu kampung tiap subuh,” kata pria tegap yang memegang payung.

“Mana besar sama Sendawa saya, hahhh?” Ngegragas terlihat ketus. Ia kembali meneguk air dari dalam botol itu, dan “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk,” sendawanya kali ini menggelegar deras.

Di depan gubuk, pak tua Sukri seperti tertantang untuk membalas dengan melesatkan Sendawanya. Tapi, hari sudah beranjak muda. Sendawa miliknya hanya untuk Subuh.

“Pak tua, aku kasih waktu dua kali dua puluh empat jam. Nanti aku kirimi duit, kau bisa bangun gedong dengan uang itu. Pabrik mau dilebarkan, biar tanah ini lebih bernilai ekonomis,” Ngegragas berteriak-teriak dari jauh. Setelahnya, ia tak menunggu jawaban dan melangkah meninggalkan lading dan masuk ke dalam pabrik.

Pak tua Sukri termenung. Ia mendengar dengan jelas ucapan pria penenggak botol Swiss itu. Bibir Sukri merapal-rapal. Wajahnya merah memendam kemarahan yang amat sangat.

***

Dua minggu usai Ngegragas melepas Sendawa di pinggir kebun tembakau, Subuh itu Sukri masih melesatkan Sendawanya, walau hanya serupa angin tipis semilir, pelan dan landai. “Aaaaakkkkk,”

Tak ada keriuhan dan kebisingan dari pabrik di samping ladang. Tak ada orang-orang pemukiman, tak ada buruh-buruh pabrik. Ladang sukri juga sepi, batang-batang tembakau tinggal sedikit lagi karena sudah di panen kemarin siang. Sementara, Sukri sibuk berkemas. Menggulung pakaiannya ke dalam selimut bau kepinding. Sukri bersiap-siap pergi.

Sehari setelah perbincangan satu arah antara Ngegragas dan Sukri, ratusan orang kota berbondong-bondong mendatangi pemukiman. Berbaris-baris di sebelah tembok pabrik kayu di ladang tembakau Sukri. Mengukur-ukur tanah sepetak milik Sukri. Batang-batang Tembakau yang tersisa, patah dan tumbang digilas kaki-kaki orang kota. Sukri diintimidasi dan diminta segera pergi.

Kabar itu menyebar dengan cepat diantara penduduk pemukiman. Dan, mendengar perilaku orang kota yang menginjak-injak tanah sepetak Sukri, orang pemukiman bersepakat bertemu. Mereka bersekutu. Akan ada perlawanan.

“Mati karena melawan lebih baik daripada hidup tapi ditindas,” teriak warga saat berkumpul tengah malam. Membawa senjata-senjata.

“Ya, ini tanah kita, gunung kita. Sudah cukup mereka mengambil dan merampas pohon kita, dan tak boleh lagi diambil,” seru warga lain.

Tak lama setelah Sukri melepas Sendawa ringan di subuh yang mulai merah, ribut api membara. Dentum molotov menguliti pagi. Gemuruh pedang dan letupan berkecamuk di sekeliling tembok pabrik kayu. Gemeretak gigi dan tulang beradu cepat terhempas ke tanah. Pentungan bertali-tali.  Langit menutup mata tak mau jadi saksi.

Di sore hari setelah bentrokan berdarah, puluhan polisi berseragam senjata lengkap laras panjang dan pentungan hitam berderap-derap. Berjaga di depan pabrik yang sudah berhenti beroperasi. Garis polisi berwarna kuning di pasang mengitari tembok pabrik.

Sementara tangis-tangis histeris mulai melengking membuat merinding. Tujuh penduduk pemukiman tewas. Tiga tersabet pedang, dua terbakar tubuh dan dua tertusuk anak panah. Para korban sudah dikubur di kaki gunung di hari yang sama. Walaupun di kubu orang-orang kota sewaan Ngegragas juga ada yang tewas: lima orang banyaknya, penduduk pemukiman kini menaruh dendam.

Jeda dua hari, perang kembali meletus. Penduduk Sungsang geram, karena orang-orang kota terus ditumpahkan. Polisi terus ditambah bahkan mencapai ribuan. Perang berlangsung hampir sebelas hari. Puluhan korban berjatuhan dari kedua kubu, ratusan terluka. Tanah seantero pabrik dan kebun Sukri berubah merah karena darah beku sisa perang panjang. Sudut-sudut tembok pabrik retak. Anehnya, gubuk reot Sukri tak bergeming dan masih utuh tak tersentuh.

Perang akhirnya reda, saat orang kota diminta tak lagi datang ke Sungsang. Ngegragas diminta menghentikan pasokan uang, minuman alkohol dan senjata. Penduduk juga diminta menahan diri. Ini hanya soal tanah sepetak Sukri.

“Mari kita ambil jalan tengah, agar semua kembali berjalan normal. Penduduk bisa senang dan para pengusaha juga bisa tenang. Toh, pabrik-pabrik juga ada untuk warga disini bukan?” kata seorang mediator yang didatangkan dari kota.

“Ayo, siapa yang belum bekerja? Coba dicatat, biar pabrik memberi pekerjaan, gak susah sebenarnya,” timpalnya sembari membetulkan letak kacamata dan dasi kupu-kupu oranye-nya yang miring bersamaan.

Entah mungkin karena kata-kata cukup merayu, atau mungkin karena penduduk pemukiman sudah letih berperang, saat itu semua diam. Tak ada senyum apalagi pertanyaan. Sungsang kini lengang karena tak ada lagi perang.

Sementara Sukri berhenti berdendang. Hanya sendawanya yang masih melesat walau terdengar tanpa nyali. Sukri menyesali karena pada akhirnya korban berjatuhan hanya karena tanah sepetak miliknya. Pemukiman Sungsang menjadi lautan amarah bercampur darah. Sukri sudah mengambil keputusan. Ia akan pergi: besok pagi.

Sebulan kepergian Sukri, hujan disusul petir setiap hari menjulur-julur. Mendung tak berhenti bergelombang di langit. Pemukiman basah tenggelam. Tapi gubuk reot milik Sukri masih di situ. Tak ada yang berani mendekati. Hanya tanah bekas ladang sudah dipagari. Pabrik juga sudah beroperasi lagi.

Anehnya, tiap subuh masih saja terdengar Sendawa keras dari dalam gubuk peninggalan Sukri. Bahkan berkali-kali. Dan, usai Sendawa itu menggelegar, mesin pabrik akan mulai bekerja. Karyawan juga mulai berbaris masuk tembok.

Suatu waktu mendengar kisah itu, Ngegragas marah sejadi-jadinya. “Ada apa ini? Kenapa harus Sendawa itu? Berhenti semua!!,” Ngegragas berang. Pabrik berhenti.

Merasa tak bersalah, karyawan akhirnya protes dan mogok kerja. Tapi berselang beberapa hari, Ngegragas akhirnya menyerah. Ia meminta agar mogok di stop. Tapi karyawan kadung marah, ratusan orang mengundurkan diri dan beralih ke pabrik lain.

Akibatnya Ngegragas angkat kaki. Pabrik dan tanah ia juali, karena jika tidak, ia harus terus menanggung rugi. Walau Ngegragas sudah pergi, puluhan pabrik lain masih terus berdiri. Pohon-pohon tak pernah berhenti di gergaji. Gunung kian menanggung mati.

Tapi, Sendawa itu masih terus terdengar bernyanyi tiap Subuh menjelang pagi. Sementara, dendang pak tua Sukri kini menjadi cerita bagi penduduk pemukiman. Dendang pengantar tidur anak-anak bayi, dan Sukri tua tak pernah kembali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.