Ilustrasi sedekah (Pixabay)

Sepanjang sejarah, belum pernah tersiar kabar bahwa muzakki yang meng-infaq-kan hartanya di jalan Allah itu, jatuh miskin. Justru sebaliknya, mereka merasa semakin kaya. Tentu, konteks ‘kaya’ disini ditinjau dari segi psikologis muzakki.

Seorang psikolog sekaligus praktisi di dunia pendidikan anak asal Surabaya, Nuri Fauziah berkomentar bahwa menjadi muzakki adalah implementasi dari kebutuhan kasih sayang. Kasih sayang seorang yang  memberikan sebagian ‘hak’-nya kepada yang berhak sesuai nishab dan telah mencapai haul-nya.

Adalah sahabat Abdurrahman bin Auf yang mensedekahkan seluruh hartanya untuk dakwah hanya karena mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa, ia akan memasuki surga dengan merangkak sebab harta yang terlampau melimpah ruah itu akan menjadi penyebab lamanya ia dalam yaumul hisab. Maka sejak itulah Abdurrahman memutuskan untuk mensedekahkan hartanya.

Ditinjau dari aspek spiritualitas, berzakat, bersedekah (baca: infaq) ataupun berqurban, hakikatnya adalah ‘membunuh’ rasa kepemilikan. Secara psikologis, bersedekah itu menurunkan sense of belonging (Rasa Kepemilikan) atau pun ekspektasi atas apa yang “dipunya” sehingga kebutuhan akan rasa aman pun tidak seberlebihan mereka yang merasa memiliki semua hartanya. Maksudnya, dengan bersedekah berarti melatih pribadi untuk lebih legowo dalam menjaga harta daripada mereka yang tidak bersedekah. Sehingga bisa lebih fokus pada pemenuhan syarat untuk menjadi insan yang lebih baik.

Dalam penelitian Eksperimental Giving yang dilakukan oleh Andersen dkk, terdapat sebuah kesimpulan bahwa seorang yang menerima sesuatu sebanyak 2 kali, merasa tidak lebih bahagia daripada memberi sebanyak 1 kali.  Artinya, memberi dengan dibarengi pasrah atas apa yang bukan lagi miliknya, akan mengaktifkan sektor bahagia yang terdapat di otak depan dekat pelipis. Sebab, ketika seseorang “memberi” maka yang merespon adalah ranah decision dalam pengambilan keputusan.

Orang bersedekah yakin bahwa sedekah yang diberikan, diganjar kebaikan berlipat dari sisi Allah. Rasa yakin inilah yang menjadi motivasi untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan berikhtiar lebih baik lagi. Sehingga menambah etos amal (kerja) yang lebih baik.

Seseorang yang memiliki keyakinan, bisa dilihat dari gratitude dan fulfillmentGratitude adalah sifat dimana akan timbul rasa syukur ketika berbuat sesuatu kepada orang lain dan menimbulkan kesan baik kepada yang menerima. Namun, dalam fulfillment seseorang akan merasa cukup atas apapun yang telah diberikan oleh Allah. Efek dari fulfillment adalah seseorang berkeyakinan bahwa semua kekurangan akan Allah tutup dan jika ditambah dengan syukur maka Allah akan memberikan nikmat-Nya yang lain.

Lantas bagaimana jika sedekah dilakukan dengan rasa tidak ikhlas? Ya tentu kebalikannya. Jika sedekah tidak ikhlas maka yang terjadi adalah diri merasa masih memiliki. Berharap kembali, bahkan lebih, atau berharap dipuji dan sebagainya. Maka jika harapan tersebut tak berwujud kenyataan, ini yang akan mengganggu kesehatan mental. Menjadi lebih cemas, bahkan semakin khawatir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.