Pete Shelley (Foto: alt92)

Dalam pencarian kehidupan yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kesibukan kota London, Pete Shelley menghembuskan napas terakhir di Estonia saat serangan jantung datang menjemput ajalnya. Pete Shelley meninggal dalam usia 63 tahun pada Sabtu, 8 Desember 2018 kemarin.

Pete Shelley terlahir dengan nama asli Peter Campbell McNeish pada 17 April 1955, di Lanchasire, Inggris. Beberapa tahun setelah kelahirannya, dunia akan mengenal dirinya sebagai Pete Shelley, vokalis dan gitaris dari bandpunk rock legendaris asal Manchester bernama Buzzcocks.

Buzzcocks sendiri meniti karir mereka di blantika musik dengan cara indie. Mulai dari sektor produksi, pembiayaan dan pemasaran album mereka, semua dilakukan dengan sendiri tanpa keterlibatan perusahaan rekaman manapun.

Pete Shelley memimpin proses penggalangan dana, dengan cara meminjam uang ke semua teman yang bisa dipinjam uangnya. Menjual semua koleksi album musik dia yang sudah usang ke toko musik Virgin, lalu meminjam uang ke ayah salah satu personil band-nya.

Dengan uang yang berhasil dikumpulkan, Pete Shelley dan Buzzcocks lantas memproduksi mini album pertama mereka yang bertajuk ‘The Spiral Scratch EP’ pada tahun 1977, dengan target mereka harus berhasil menjual mini album tersebut sebanyak 10 ribu kopi untuk mengembalikan uang yang mereka pinjam.

Malang dapat ditolak, Untung dapat diraih. Mini album Buzzcocks itu ternyata berhasil terjual sebanyak 16 ribu kopi. Terlebih saat itu, Buzzcocks  juga berhasil tampil sebagai band pembuka untuk penampilan Sex Pistols yang kala itu sedang panas-panasnya karena aksi kontroversial mereka yang mendukung terjadinya anarki di Inggris Raya dan sikap konfrontasi terhadap monarki.

Namun, Pete Shelley bukan Johnny Rotten sang vokalis Sex Pistols yang bisa dengan gampang bicara tentang fenomena tingginya praktik aborsi di kalangan perempuan muda Inggris. Pete Shelley juga bukan Joe Strummer yang mampu mengangkat tema perjuangan kelas dan ancaman perang nuklir dalam lirik lagunya.

Pete Shelley bukan pembuat lirik lagu politis seperti itu. Namun, saat berbicara tentang bagaimana rasanya mencintai orang yang sebaiknya jangan dicintai, hidup sebagai paranoid dan tidak diterima oleh siapa saja, Ia sangat piawai. Bagaimana cinta yang semestinya begitu indah untuk dirasakan, ternyata hanya membawa derita panjang tak berkesudahan, Pete sangat mengerti. Dia memang sangat terampil membuat lirik dengan tema patah hati dan konflik batin seperti itu.

Akan tetapi, bukan band punk rock namanya jika tidak punya pengalaman dicekal oleh pihak korporasi. Lagu Buzzcocks yang berjudul ‘Orgasm Addict’ dilarang mengudara di radio BBC karena lirik dan judul lagu tersebut dianggap terlalu kasar dan kurang ajar untuk pendengar konservatif radio itu.

Saat Buzzcocks vakum dan Pete Shelley memutuskan untuk solo karir lewat proyek musik elektronik dirinya di era 80-an. Single Pete Shelley yang berjudul ‘Homosapien’juga dicekal radio BBC karena dianggap kental aroma LGBT yang kala itu masih dianggap tabu.

Pete Shelley tercatat memiliki banyak fans di kalangan musisi karena karya yang dibuatnya. Beberapa nama tersebut diantaranya Kurt Cobain vokalis dari Nirvana, Peter Hook personil dari grup musik New Order, bahkan Chris Martin biduan Coldplay pernah membawakan ulang lagu lama Buzzcocks yang berjudul ‘Everybody’s Happy Nowadays’ bersama band alternative rockasal Irlandia bernama Ash.

Sabtu kemarin, kabar duka itu menyebar luas. Media sosial pun kemudian dibanjiri dengan ekspresi duka dari kalangan selebriti dunia yang sedih mendengar kabar meninggalnya Pete Shelley.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.