Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi penurunan suku bunga kredit pada tahun ini masih cukup terbuka. Analis Eksekutif Departemen Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK, Aslan Lubis menyebut ruang penurunan kredit konsumsi tahun ini tetap masih ada meskipun potensinya memang sangat terbatas.

Aslan pun melihat kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sebagai penentu penurunan suku kredit. Jika tidak naik secara berlebihan, maka peluang turunnya suku bunga kredit tetap ada. “Sejauh Amerika tidak menaikkan suku bunga The Fed secara agresif maka ruang suku bunga kredit konsumsi turun masih ada,” kata dia.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (BNI) Achmad Baiquni juga memperkirakan  suku bunga kredit kemungkinan akan turun pada 2018. Baiquni berpendapat biaya pengumpulan dana (cost of fund) yang kini lebih rendah menjadi alasan suku bunga kredit seharusnya melakukan penyesuaian. “Kami prediksi sedikit lebih menurun karena sekarang memang cost of fund turun dan inflasi rendah,” ujar dia pada 2 Januari lalu, seperti dilansir dari Republika.co.

Sebelumnya, hasil survei perbankan terbaru Bank Indonesia (BI) menyebutkan kemungkinan penurunan suku bunga kredit pada triwulan I 2018. Meningkatnya promosi penawaran kredit dan penurunan suku bunga kredit pada triwulan sebelumnya membuat responden optimis tren penurunan bakal berlanjut.

Menurut survei BI pula, hampir semua jenis kredit akan mengalami penurunan suku bunga. Rata-rata suku bunga kredit modal kerja diprediksi turun 5 basis poin (bps) menjadi 12,24 persen, sementara suku bunga kredit konsumsi turun 8 bps menjadi 15,08 persen. Sebaliknya, suku bunga kredit investasi justru mengalami kenaikan 2 bps ke level 11,89 persen.

Sejumlah pihak memang beranggapan penurunan suku bunga kredit cenderung lebih lambat ketimbang pemangkasan suku bunga acuan. Dalam satu tahun terakhir, suku bunga acuan yang dipangkas sebesar 200 bps berbanding terbalik dengan suku bunga kredit yang rata-rata masih berada di level 11 persen.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyebut lambatnya penurunan bunga kredit disebabkan oleh faktor struktural. Usai penurunan bunga deposito, perebutan dana yang tidak sehat membuat aliran dana tetap cenderung masuk pada bank yang menawarkan bunga yang lebih tinggi. “Ini akarnya karena persaingan bank di Indonesia tidak sehat,” kata Bhima Kamis (18/1) lalu.

Apalagi, rata-rata beban operasional perbankan memang masih cukup tinggi. Rata-rata rasio Biaya Operasional–Pendapatan Operasional (BOPO) masih berada pada kisaran 80 persen. Untuk menekan suku bunga kredit, ungkap Bhima, perbankan memang harus lebih efisien.

Hingga saat ini, BI masih mempertahankan suku bunga acuan (7 Days Revers Revo Rate/ 7DRRR) sebesar 4,25 persen. Rendahnya suku bunga acuan ini membuat perbankan seharusnya melakukan penyesuaian atas suku bunga kredit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.