Rabu (13/3) ini, Polres Tangerang Selatan akan merilis peristiwa ‘R’, PRT yang tega membuang bayinya sendiri. Berkenaan dengan hal itu, LBH Keadilan akan menyampaikan pandangan sebagai berikut: 

Pertama, harus dipahami bahwa kasus ini bukan kasus sederhana. Tidak cukup hanya melihat bahwa perempuan itu membunuh anaknya. Jadi, tentu tidak sesederhana itu.

Dalam konteks peristiwa ini, hukum jangan dibuat kaku, hitam-putih, benar-salah. Aparat kepolisian harus melihat aspek lain dan menerobos batas-batas perundang-undangan. 

Peristiwa ini tidak mungkin terjadi begitu saja. Ada relasi kuasa, yakni relasi yang sifatnya hierarkis, ketidaksetaraan dan/atau ketergantungan status sosial, budaya, pengetahuan/ pendidikan dan/ atau ekonomi yang menimbulkan kekuasaan pada satu pihak terhadap pihak lainnya dalam konteks relasi antar gender sehingga berakibat merugikan pihak yang memiliki 

posisi lebih rendah. Dalam konteks peristiwa ini, posisi ‘R’ adalah sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang merupakan posisi yang lemah dibandingkan pasangan yang menghamilinya. 

Di situ, polisi semestinya tidak melihat hukum secara hitam dan putih. Polisi semestinya mengungkap juga hubungan ‘R’ dengan laki-laki yang menghamilinya. Jangan-jangan ‘R’ ini menjadi korban perkosaan. Atau setidaknya karena ada relasi kuasa, mengingat ‘R’ itu seorang PRT dan usianya masih sangat muda yang tentu belum matang secara psikologis.

Oleh karena itu, LBH Keadilan siap untuk melakukan pendampingan ‘R’ jika ada permintaan dari ‘R’atau keluarganya. Bahkan, jika diperkenankan oleh kepolisian, kami akan segera menemui ‘R’.

Selain itu, kriminologi memandang peristiwa ini bisa jadi sebagai pertanda melemahnya kontrol sosial di masyarakat Tangerang Selatan. Sebagai daerah yang menuju kota metropolitan, masyarakat mulai bersikap cuek, tidak peduli, tidak peka terhadap lingkungannya. Sehingga kejahatan bisa dengan mudah dan terjadi. Hubungan yang tidak sah antara ‘R’ dengan laki-laki yang menghamilinya, mengapa begitu mudah terjadi. 

Kriminologi juga bisa memandang peristiwa ini sebagai fenomena ‘tuntutan sosial’ masyarakat urban. ‘R’ yang bisa jadi merupakan masyarakat urban dan hidup di lingkungan daerah yang menuju kota metropolitan, memiliki tuntutan, gaya hidup atau aspek lain yang setara dengan lingkungannya. ‘R’ bisa jadi karena ingin memiliki pacar, misalnya memungkinkan adanya hubungan pacaran dengan laki-laki yang menghamilinya.

Abdul Hamim Jauzie | Ketua Pengurus LBH Keadilan

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.