Ilustrasi (Pixabay)

Bagaimana rasanya setelah diberi hidup kurang lebih 20 tahun lamanya? Kemudian, sejak umur 8 tahun kamu mulai mempertanyakan hidup ini. Soal bagaimana rasanya dipeluk oleh sosok yang disebut keluarga? Bagaimana rasanya memiliki tempat untuk berkeluh kesah, bercerita soal hasil ulanganmu yang memuaskan, guru yang memujimu atau bahkan kamu yang bisa menghibur teman-temanmu?

Pada nyatanya, semua harap itu tersimpan rapih-rapih, menyisakan dirimu dengan segala pikiran dan tatap nanar. Kemudian waktu membentukmu menjadi sosok yang terlihat tenang padahal rapuh.

“Mulai hari ini, kita jadi keluarga ya!” Ujarmu sambil mengelus boneka panda yang kamu beri nama ‘Donong’, kemudian beralih menatap dua boneka perempuan, dan berujar“Ibu,” dan lagi, “Adik.”

Tanpa kamu mau, air mata itu jatuh, kemudian kamu memeluk lututmu seerat mungkin, menahan tangis agar tidak terdengar orang rumah, yang entah peduli atau tidak akan hadirmu, pikirmu kala itu, bocah Sembilan tahun.

Bumi Tuhan, 2008

***

Akhirnya masa sekolah menengah pertamamu selesai, tinggal menunggu wisuda. Selamat kamu mempertahankan predikat murid yang tidak neko-neko, meski di awal-awal masuk sekolah kamu sempat terlibat kasus dengan lawan jenis, dimana sekolahmu memang tidak ingin muridnya saling menjalin hubungan. Katanya selain dilarang agama, hubungan itu tidak ada gunanya sama sekali, selain membuat kacau. Padahal ketika itu hanya sebatas bicara lewat pesan saja. Kamu hanya ingin seseorang yang peduli.

Kamu tentu masih ingat ketika surat panggilan itu datang melalui perantara kakak kelas. Ketika itu, kamu segera memberi tahu dia dan berakhirlah hubunganmu dengannya yang sedang manis-manisnya. Namun, semua sudah terlambat. Panggilan sudah datang dan mau tidak mau, siap tidak siap, kamu harus memenuhinya. Ingat, kamu terlahir kuat ! Itu yang selalu kamu ucapkan berulang kali pada dirimu ketika dunia terasa menyebalkan.

“Kamu tuh orangnya nurut banget ya! Rajin lagi!” ujar seorang teman ketika kamu dan dia selesai mengerjakan tugas, dan kini tengah menikmati senja dari bedeng sekolah. Kamu memang suka pulang terlambat.

Ketika itu, kamu hanya tersenyum simpul. Ini bukan yang pertama kali kamu dibilang begitu. Sayangnya, kamu tidak ingin mendengar itu dari orang lain. Yang kamu ingin adalah dari keluargamu.

Kemudian hari itu tiba, hari wisuda. Kamu menggunakan pakaian pink dipadu hitam. Satu persatu nama wisudawan dipanggil, akhirnya tibalah giliran kamu. Seperti wisudawan lainnya kamu maju bersama keluargamu, yang kamu sayangi sepenuh hati. Seorang guru memelukmu dan demi Tuhan, kamu tidak tahu harus apa, jadilah pelukan tersebut menjadi pelukan canggung.

Selepas turun dari panggung, diam-diam matamu berair. Disampingmu, duduk salah satu dari keluargamu. Sayangnya tidak dengan raut muka bahagia, sebab anggota keluarganya sudah selesai menyelesaikan salah satu jenjang pendidikan. Kamu tahu, sebelum datang kemari, kamu dan dia sempat terlibat perdebatan. Ada acara yang harus dihadirinya sedang tidak ada lagi orang yang bisa hadir di acaramu kali ini, yang hanya satu kali dalam hidup di masa SMP.

“Maaf,” ujarmu pelan. Rasanya kamu ingin menangis deras seraya merutuk, “Seberapa berharganya aku di keluarga?”. Tapi lagi-lagi Tuhan tidak membiarkan itu, seorang temanmu sedang menangis sebab ia masuk dalam jajaran murid berpestasi namun keluarganya sama sekali tidak hadir dan itu sangat menyakitkan bukan? Lebih-lebih dari yang kamu lalui saat ini, maka dengan cepat segera kamu tarik dua ujung bibirmu sambil berkata, “semua baik-baik saja.”

Bumi Tuhan, 2015

***

Saat ini, dihadapan keramaian, kamu bukan sosok yang menonjol. Kamu lebih suka memperhatikan sekitar sambil memasang headset di kupingmu. Tentunya dengan lagu-lagu bernada tenang, sebenarnya lebih tepatnya bernada mellow. Entah kenapa kamu suka sekali lagu-lagu macam itu. Katamu, lagu itu seperti gambaran akan dirimu, hahaha.

Padahal jelas-jelas dihadapan orang-orang, kamu terlihat baik-baik saja. Kamu pendiam tapi tidak sungkan jika diajak bicara. Kamu masih bisa berbaur dengan yang lain.

Sebelum jatuh cinta pada pagi, kamu lebih dahulu jatuh cinta pada senja. Untukmu, senja mengajarkan bahwa semua akan indah pada waktunya. Bahwa harus ada proses yang kamu lalui sebelum menemui bahagia. Senja hadir setelah hari yang panjang bukan? Hari yang mungkin hujan atau terik, yang menyenangkan atau tidak. Senja selalu ada, dengan setia, dengan indahnya.

Kemudian kamu mulai menyadari bahwa pagi juga tidak kalah indahnya. Bahwa pagi selalu membawa lembaran baru bagi siapa saja, tidak peduli seberapa kacaunya ia di malam hari. Pagi yang indah akan menghasilkan hari yang indah, kemudian disambut senja yang mengagumkan.

Maka sejak saat itu, kamu penyuka pagi dan senja. Kamu mulai menerima hidupmu dengan segala lika likunya. Memeluk erat luka yang pernah ada, memaafkannya, serta hidup sebaik mungkin.

Bersyukur atas segala yang terjadi. Keluargamu, dengan cara tersendiri, pasti sangat menyayangimu. Kamu kuat !

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.