Beberapa riset menunjukan Indonesia terjebak dalam oligarki ekonomi. Jeffrey Winter sangat gamblang menggambarkan bagaimana oligarki ekonomi begitu kuat di Indonesia.Demikian menurut Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun dalam diskusi rutin Cespels yang bertajuk Prediksi dan Kredibilitas Kabinet Kerja Jilid II Menjawab Tantangan Ekonomi di Jakarta, 26 Agustus 2019.


“Ini yang menyebabkan kepentingan nasional untuk meningkatkan perekonomian, yang berdampak pada kesejahteraan rakyat terhambat, sehingga ekonomi tidak tumbuh secara luar biasa. Bahkan infrastruktur yang ada, masih belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi,” kritiknya.

Dalam kesempatan yang sama, ekonom Universitas Indonesia, DR Fithra Faisal Hastiadi mengungkap bahwa sejak 1998 rupiah terus terdepresiasi dan cenderung melemah. Kelemahan rupiah merupakan gejala dari ‘sakitnya’ ekonomi kita, salah satunya adalah keseimbangan export-import yang tidak terjaga dengan baik. Sementara kita tak bisa menahan impor karena 90% adalah kebutuhan barang produksi, mirisnya, kitapun tak bisa mendongkrak ekspor.


“Kita mengalami deindustrialisasi. Di negara maju wajar itu terjadi, di negara berkembang seperti Indonesia harusnya tidak,” katanya.


Indonesia seharusnya mengalami proses transformasi dari negara agraris menuju industrialisasi, kemudian services. Indonesia melewati masa industri.


“Salah satu yang membangkitkan industri adalah infrastruktur. Namun World Bank mengatakan visibility studies infrastruktur di Indonesia tidak baik. Infrastruktur kehilangan prioritas, industri terhenti. Dalam konteks industri, ada rencana memiliki puluhan prioritas. Kalau kita punya banyak prioritas, artinya kita tidak punya prioritas,” imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.