Nilai tukar rupiah terus bergerak melemah di bulan Februari. Sejak tanggal 8 Februari kemarin, mata uang rupiah bahkan menembus level Rp 13.600 per dolar, kurs rupiah terendah sejak Oktober tahun lalu. Di pasar spot, mata uang Garuda bahkan berharga Rp 13.624 per dolar, kondisi terparah dalam 20 bulan terakhir atau sejak Juni 2016 lalu.

Akan tetapi, laju pelemahan ini memang sejalan dengan penurunan yang terjadi pada sebagian mata uang Asia lain. Selama sepekan kemarin, Yen tercatat mengalami koreksi sebesar 0,64 persen menjadi 106,8 per dolar sementara Dolar Singapura melemah 0,63 persen ke level 1,3195 per dolar AS.

Menurut Vice President Research and Analysis Valbury Securities Nico Omer Jonckheere, tekanan terhadap rupiah disebabkan sentimen negatif rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) di bulan Maret. Sentimen itu kemudian menekan seluruh mata uang negara berkembang.  “Perbaikan data ekonomi makro Amerika Serikat, khususnya data ketenagakerjaan yang disusul kenaikan ekspektasi inflasi dan juga imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan mata uang negara berkembang,” ujar dia, Jum’at dua pekan lalu.

Sentimen tersebut pun akhirnya mengubah ekspektasi atas kenaikan suku bunga The Fed sebanyak tiga hingga empat kali. Padahal, sebelumnya ekspektasi itu hanya sebanyak dua sampai tiga kali.

Senada dengan hal tersebut, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail juga menyatakan pelemahan rupiah karena kenaikan imbal hasil surat utang AS yang hampir mencapai angka 2,8 persen. Kecenderungan itu kemudian memicu investor asing mengalihkan kembali investasinya ke portofolio bernilai dolar AS. “Asing keluar karena imbal hasil global naik,” ucapnya.

Namun demikian, Bank Indonesia (BI) menyebut depresiasi hingga ke level 13.600 per dolar AS ini sebagai sesuatu yang normal. Bagi Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, tekanan yang kuat di bulan Februari adalah penyesuaian untuk menghadapi kenaikan suku bunga The Fed yang diprediksi naik pada bulan depan. “Itu hanya penyesuaian yang normal. Jika sekarang ekspektasinya adalah Maret, akan ada kenaikan tekanan di Februari,” kata Mirza di Jakarta, 8 Februari lalu.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah berhasil menguat 17 poin atau 0,12 persen ke level Rp 13.668 per dolar. Laju penguatan tersebut pun mengakhiri tren pelemahan rupiah selama hampir sepekan kemarin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.