Kebanyakan kita menjadi muslim karena terlahir dari orangtua, kakek-nenek muslim. Sehingga pendalaman agamapun terkadang “terhenti” saat sudah bisa sholat, mengaji. Kemudian disaat usia produktif, ilmu agama sangat lamban menggores pikiran dan hati karena ilmu duniawi dominan mencekoki untuk mencapai karir dalam hidup. Barulah setelah masuk pensiun, biasanya kembali menekuni agama mencari bekal ke akhirat.

Beruntung jika diarahkan orangtua untuk masuk pesantren atau sekolah islam, karena setidaknya pengenalan dan pendalaman agama berbasis Al Quran lebih melekat sebagai bekal di usia produktif. Bersyukur mereka yang bahasa induknya berbahasa Arab, lebih mudah mendalami makna Al Quran.

Bagi muslim non pendidikan pesantren, sholat dan mengaji menjadi modal utama utk beribadah dan pertanyaan kritisnya : disaat melafadzkn bacaan sholat (tentu dengan hafal artinya) apakah saat sholat, baik saat bersuara maupun dalam hati, sang otak sedang “membaca” ayat Al Qur’an berbasis tulisan Arab atau sedang “membaca” bahasa Arab berbasis bahasa latin?

Bagi muslim pesantren, hampir pasti bahwa saat membaca bacaan sholat, disaat bersamaan otak sedang mengingat, membayangkan dan membaca huruf Arabnya, bukan huruf latinnya, semoga para pembaca juga demikian adanya. Lantas apa bedanya ? Karena sholat hanya sah jika menggunakan bahasa Arab seperti yang diajarkan Allah kepada Rasulullah.

Alhasil, bila saat sholat melafadzkan ucapan Arab, namun disaat yang sama otaknya mengingat, membayangkan serta membaca dari tulisan berbasis latin, apakah kelak Islam Nusantara akan sholat atau mengaji dengan terjemahan bahasa Indonesia, bukan berbasis bahasa Arab? Sangat merugi bila tidak memperbaiki cara sholat dengan menyempurnakan bacaan sholat yang diikuti tengah membayangkan membaca Al Qur’an , bukan membayangkan membaca bahasa Latin nya, apalagi terjemahannya. Lantas kenapa sangat merugi?

Surah Al-Hasyr, menjelaskan
Bismillāhir rahmānir rahīm
لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٢١﴾
(59/Al-Hasyr-21)

Bahasa Latin :
Law anzalna hatha alqurana alajabalin laraaytahu khashian mutasaddian min khashyati Allahi watilka alamthalu nadribuha lilnnasi laallahum yatafakkaroona.

Bahasa Indonesia :
Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Otak manusia tak mampu membayangkan kedahsyatan energi Al Qur’an yang soft copy aslinya tersimpan di Maha Server-Hard Disk Lauhul Mahfudz, yang mana atas perintah Allah SWT, secara bertahap di download dari ” buku induk ” Lauhul Mahfudz lewat Jibril AS ke Rasulullah Muhammad SAW.

Selain keajaiban kedahsyatan energi Al Qur’an, keajaiban Allah SWT mentransfer 6666 ayat Al Quran yang dibawa Jibril ke bumi, dimana kemudian Jibril berkali-kali mem “bluetooth” Rasulullah yang ummi (tak bisa baca tulis), akhirnya mampu membaca, menghafal, mengerti maknanya yang kemudian dibukukan oleh para sahabat Rasullullah menjadi buku/hardcopy Al Quran yang kita baca, berikut serta riwayat turunnya Al Qur’an yang dihimpun dalam hadis Rasullullah yang kemudian menjadi petunjuk hidup muslim .

Lantas mengapa manusia tidak mau menggunakan kedahsyatan Maha eEnergi Al Qur’an melalui mengenal, membaca tulisan huruf Arab yang di bluetooth Jibril ke dalam diri, hati pikiran Rasulullah? kenapa masih belum beranjak membaca Yassin berbasis bahasa latin ke membaca Yassin berbasis huruf Arab? Apakah Allah memerintahkan Jibril utk mem”bloetooth” Al Qur’an ke Rasulullah dengan tulisan latin?

Gunung terpecah belah jika Allah meletakkan Al Qur’an diatasnya, maka bila manusia membaca serta mentransfer energi Al Quran kedalam pikiran, hati serta badannya, pasti charging dari Maha Energi Al Quran itu akan mengobati dan membuat badan jiwa manusia menjadi luar biasa. Maha Energi Al Quran yang dibaca saat sholat maupun diluar sholat akan memperbaiki mengobati badan jiwa hati yang sakit. Bagi pemarah akan menjadi lembut hatinya, yang pembohong, sombong, kikir, jahat akan menjadi lembut, menyayangi mahluk dan seluruh ciptaan Allah secara tulus.

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS Al-Israa’ : 82).

Contoh kecil saat takbir dalam sholat, apakah yang hadir di otak dan hati kita aksara Allahhu Akbar atau اَللّٰهُ أَكْبَر ? Maknanya tentu sama karena Allah Maha Segalanya, Maha Mengetahui bahkan yang masih belum terucap, namun bisa jadi khasiatnya berbeda. Apakah bahasa latin yang bukan jadi bahasa “Maha Komputer Maha server” Lauhul Mahfudz akan bisa “online” dengan milyaran pembacanya? Alangkah meruginya jika pembaca buku/hardcopy Al Quran berbasis latin tidak online dengan softcopy Al Qur’an yang tersimpan di Lauhul Mahfudz.

Pastikan sempurnakan sholat dengan membaca dan membayangkan Al Quran berbasis bahasa Arab, agar secara otomatis tercipta online, terjadi reaksi di dalam tubuh dan jiwa yang me-charging Maha Energi langit yang berkhasiat memperbaiki badan jiwa, total khusyuk berkomunikasi dengan frekuensi Allah, sehingga setiap langkah di “remote” Allah menuju Husnul Khatimah, Aamiin Yaa Rabbal Alamin.

Endro Subekti S.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.