Judul : Memeluk Takdir | Penulis : Nurul Miresi | Penerbit: Grasindo

“Itulah yang namanya takdir. Memang garisnya harus seperti itu. Ujian demi ujian harus mereka jalani. Menguji kekuatan cinta mereka.”– hal. 131

Jatuh cinta memang hak setiap orang, tetapi Wafa jatuh cinta pada Mentari. Ia jatuh cinta pada sepupunya sendiri. Hidup Wafa menjadi berantakan akibat ulah ayah Mentari yang tak merestui hubungan mereka. Konsekuensi tidak hanya diterima oleh Wafa, melainkan Mentari pun harus mengalami hidup yang tidak pernah diinginkannya (dijodohkan dengan lelaki pilihan sang ayah).

Menjalani hidup masing-masing adalah pilihan keduanya demi kebaikan bersama. Wafa sudah dikarunia tiga orang anak dari pernikahannya dengan Tiara. Sepeninggal Tiara, ia harus mengurusi ketiga anaknya seorang diri. Seandainya Darwin (ayah Mentari) tidak membuat ulah, Wafa pasti memiliki pekerjaan layak, tetapi karena kedudukannya yang cukup tinggi membuat Wafa tidak bisa mendapat pekerjaan selain menjadi buruh tani.

Di Singapura, Mentari terus mengembangkan kafe milik almarhum suaminya. Bertahun-tahun ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Wafa (cinta pertamanya). Hingga pada suatu hari, ia mendengar kabar jika Tiara telah tiada. Keadaan ini membuatnya bertekad akan menemui Wafa di Sidoarjo dan memulai semuanya dari awal. Mentari ingin menjemput kebahagiaan yang sesungguhnya.

Namun semesta tidak sebaik itu, berbagai ujian kembali menghampiri Mentari. Wafa justru menolak keinginan Mentari untuk bersama. Meski sebenarnya Wafa sangat mencintai Mentari, ia lebih memilih menikahi perempuan yang dijodohkan oleh Pak Indra. Lantas bagaimana akhir dari kisah Wafa dan Mentari? Apakah mereka akan bersatu atau menjalani takdir sendiri-sendiri?

“Aku sadar kamu adalah tiara yang tidak akan pernah aku miliki. Hargamu terlalu mahal, kemilau mutiaramu jauh lebih berkilau dibanding dengan tiara-tiara yang lainnya. Sedangkan aku, aku idak punya cukup ‘uang’ untuk membelimu.” – hal. 40

Membaca novel Memeluk Takdir ini cukup menguras air mata sejak 20 halaman pertama. Walaupun untuk ukuran sebuah novel ini termasuk tipis, tetapi konflik yang disajikan tidak setipis bukunya. Percayalah, semakin membuka halaman lain, penulis menyajikan konflik yang membuat pembaca bertanya-tanya akan akhir dari kisah Wafa dan Mentari. 

Dengan menggunakan alur maju-mundur, pembaca diajak menyelami kisah Wafa dan Mentari pada masa lalu. Penulis begitu cakap menggambarkan karakter setiap tokohnya. Terlebih dalam menggambarkan karakter Wafa, penulis berhasil menggambarkan sosok pria bertanggung jawab, penyayang, pekerja keras, serta mampu menggiring wanita menuju ke jalan yang lebih baik.

So far,kekurangan dari novel Memeluk Takdir bukanlah dari segi cerita yang disuguhkan. Titik kurangnya hanya pada font. Ukuran fontyang terbilang kecil membuatnya menjadi sedikit kurang nyaman dibaca. Jika ukuran fontdibuat normal seperti buku lainnya mungkin buku ini akan semakin enak untuk dibaca.

Well, Memeluk Takdir sangat recommended untuk pecinta buku genre romance. Selain disuguhkan dengan kisah pilu dan perjuangan setiap tokohnya, adegan-adegan manis dan sederhana dalam novel hampir pasti mampu membuat Anda tersenyum. 

Dengan membaca kisah Wafa dan Mentari, pembaca diajak untuk belajar lebih ikhlas dalam menjalani apa pun, tidak terus terpuruk dan menyerah pada keadaan. Sebab, siapapun harus tetap melanjutkan hidup meskipun begitu banyak masalah yang menerpa. Mengapa? Karena setiap manusia sudah memiliki jalan takdir masing-masing !

“Kita tidak dapat menentukan arah angin

Ia datang dan pergi melewati setiap celah

Tapi angin tak pernah mengeluh

Dia hanya mengikuti arah ke mana Tuhan menyuruhnya pergi.” – hal. 42

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.