Ilustrasi

Aku mengutukmu wahai lautan! Samudra! Pantai! Atau apapun itu namanya. – Bima –

Bima tidak terlalu tahu banyak tentang samudra. Yang ia tahu, samudra adalah hamparan lautan yang luas. Itu saja. Sebab, lelaki itu tidak mau tahu-menahu perihal Samudra lebih dalam lagi. Laut pernah memberinya luka yang teramat sangat. Bahkan, hingga lima tahun berlalu. Luka masih saja menganga hebat. Perempuan yang ia cintai sepenuh hati dengan tega menancapkan sebilah belati tajam. Tepat di bagian terspesial dari dirinya, hati. Selepas mereka berlibur ke sebuah pulau. Tentunya sehabis menyeberang lautan.

Tapi untuk kali ini, Bima akan mengalahkan rasa egoisnya. Sebab sahabatnya tengah patah hati. Sore itu, Andra datang ke tempatnya. Padahal setahu Bima, Andra bekerja di luar kota. Bertampang dingin seperti biasanya. Bima mempersilahkan Andra duduk. Menyuguhkannya secangkir kopi. Menunggu lelaki itu bicara. Namun hingga seperempat jam berlalu, tidak ada suara. Bahkan kopi pun tidak disentuh. 

Lokenapa, Dra?” tanya Bima.

Andra tersenyum kecil kemudian berucap pelan, “Tania selingkuh.”

Loserius?!” sambil menguncang bahu Andra. Bagai petir di siang bolong, setahu Bima, Tania begitu mencintai Andra. Meski Andra kerap kali bersikap acuh. Hubungan mereka nyaris berjalan tujuh bulan. Tergolong lama, sebab ini pertama kalinya Andra berpacaran. 

Ini pertama kalinya Andra patah hati. Pasti sakit sekali. Apalagi Andra sudah mencintai sepenuh hati. Rela pergi ke luar kota untuk bekerja demi meminang Tania. Bima tersenyum kecil. Menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Memberikan kekuatan. Yang ditepuk pun kemudian tersenyum tipis. Seolah isyarat ungkapan terimakasih.

***

Di luar, hujan belum juga reda. Selepas magrib tadi, setelah bercerita banyak hal. Andra pamit pulang. Bima melepas sahabatnya dengan kekhawatiran. Andra terlihat seperti orang linglung akibat patah hati. Ketika bercerita tadi, tiba-tiba saja ia tertawa kemudian menangis pelan. Berkali-kali menanyakan hal yang aneh-aneh. Bima miris melihat semua itu. Ketika hal itu terjadi, yang bisa  Bima lakukan adalah memegang bahu Andra erat-erat seraya berkata, “Lolelaki hebat! Lokuat!” sambil menatap mata Andra yang penuh luka.

****

“Gue antar pulang aja ya! Gue takut lo kenapa-kenapa.”

“Enggak usah, Bim. Besok kan lo harus kerja. Makasih ya sudah mau dengerin cerita gue. Gue sudah agak baikan kok.”

“Sabtu minggu lo libur kan? Temenin gue ke pulau seribu yuk!”

“Ngapain ke sana? Kenapa enggak ke puncak aja?”

“Gue mau liat laut. Naik kapal”. 

Bima diam sejenak. Ingatannya berputar pada peristiwa lima tahun silam. Laut, kapal, pulau dan juga perpisahan. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya. Patah hati pertama yang begitu hebat. Rencana pelamaran selepas dari pulau, hancur sudah. Liburannya dengan sang kekasih seakan tidak menyisakan kenangan Indah. Dua jam setelah sampai di rumah, perempuan itu memutuskan Bima. Putus sepihak. Tidak membiarkannya tahu penyebab dari berakhirnya hubungan mereka.

Aku benci laut, Andra!

“Bim?”

Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu tersadar. Seseorang yang terlihat selalu ceria ternyata menyimpan luka hebat. 

“Karena di laut enggak ada sinyal. Jadi gue enggak akan bisa tahu kabar Tania. Gue mau tenang, Bim!” ujar Andra. “Lagipula gue suka laut. Laut punya candu tersendiri”.

Bima pernah patah hati. Jatuh begitu dalam. Hingga sempat lupa caranya bangkit. Lelaki terkadang terlihat baik-baik saja selepas patah hati. Dengan mudahnya kembali menjalin hubungan dengan orang baru. Namun ada beberapa lelaki yang diam-diam rapuh ketika kehilangan. Sulit untuk membuka hati kembali, sebab sudah mencintai begitu dalam. Maka anggapan jika semua lelaki itu sama tidaklah benar. Sebab Bima berbeda.

***

“Di sini ada sinyal, Ndra!  Tapi sedikit. Ada listrik juga. Daerah ini kan masih masuk dalam provinsi Jakarta,” jelas Bima.

Andra melihat sahabatnya sejenak. Sejak pukul sebelas siang, mereka sudah sampai di salah satu pulau di kepulauan seribu.

“Biarin aja, Bim. Berarti pulau yang kita tuju kurang tepat. Harusnya kita ke pulau yang benar-benar enggak ada sinyal. Main kita kurang jauh, hahaha,” tawa kecil Andra terdengar. Meski tidak nyaring, namun itu menandakan bahwa Andra perlahan mulai membaik. 

Lotahu enggak, Bim? Selama perjalanan, gue mikirbuat balik lagi sama Tania”.

Logila ya? Baru kemarin, lokayak mayat hidup gara-gara Tania!” ada nada penekanan di setiap kata-kata yang terlontar. 

Lelaki yang aneh!

Dengeringue!” jeda sejenak. “Gue sayang banget sama Tania. Semalam Tania WA dan dia bilang kenapa dia lebih milih mantannya dibanding gue. Katanya gue terlalu dingin. Mungkin kalau gue jadi hangat, gue bisa dapetin Tania lagi”. 

Bima pernah merasakan apa yang Andra rasa, mencintai begitu dalam. Tapi baginya, kembali ke orang yang sudah menyakiti adalah pilihan paling salah. Apalagi memperjuangkan kembali setelah dihancurkan. Seperti membaca buku yang sudah tahu bagaimana akhirnya.

“Baru kali ini, gue benar-benar sayang sama perempuan. Gue rela ke luar kota buat dia. Semua ini enggak sepenuhnya salah Tania, Bim!” Andra melihat ke arah Bima seraya tersenyum kecil kemudian kembali menikmati suasana pantai sore hari.

Aku enggak paham sama jalan pikiran kamu, Bim. Sebegitu sempurnanya-kah Tania dimatamu? Lelaki dingin yang ketika jatuh cinta tidak main-main.

Bima tidak tahu harus berkomentar apa. Ia tidak ingin ikut campur tangan dengan asmara sahabatnya. Karena bagi Bima, perihal asmara merupakan hal yang bersifat pribadi. Kadang ada beberapa hal dari cinta yang hanya bisa dimengerti oleh si pelaku. Seperti tetap berjuang meski sudah di kecewakan. Salah satunya, Andra.

***

Bima masih menikmati lautan, jari beranjak sore. Angin bertiup sepoi-sepoi. Andra meminta izin sebentar untuk kembali ke penginapan. Katanya ingin mengambil kamera, mengabadikan senja. Sejak awal mereka datang. Memang belum ada satu foto pun yang tercipta. Jarak penginapan tidak terlalu jauh dari tempat Bima menikmati senja. Cukup bersepeda lima belas menit.

Bima tidak sendirian. Ada beberapa orang yang ikut menikmati senja. Ada yang sendiri, rombongan atau bahkan berpasangan. Lelaki itu tersenyum tipis. Pantai dan laut tidak selamanya tentang luka. Mereka menyimpan keindahan yang luar biasa. Lima tahun sudah berlalu, mungkin ini saatnya Bima melupakan masa lalunya. 

Senja yang damai. Tiba-tiba dikagetkan oleh kelakuan seorang lelaki muda. Lelaki berkaos hitam dengan celana pendek, berlari cepat. Menerobos orang-orang yang tengah khusyuk melihat langit jingga. Membuat beberapa orang merutuki si lelaki. Namun si lelaki terus saja berlari. Lama-lama menyentuh air laut, sebetis, pinggang hingga kemudian hilang. Bodohnya, orang-orang seolah tersihir oleh peristiwa itu. Barulah setelah si lelaki hilang, orang-orang bergerak.

Bima memperhatikan semua itu dengan biasa saja. Berpikir bahwa semua itu hanya untuk sensasi semata. Lagi pula sudah banyak orang yang menolong. Ia hanya berdoa, semoga si lelaki gila itu ditemukan dalam keadaan hidup. Karena kasian keluarganya nanti. Itu juga kalau ia lelaki baik-baik.

Agak jauh dari kerumunan. Sepesang kekasih terlibat dialog.

“Tania, bukannya tadi itu Andra?” 

“Iya, Sayang.”

“Apa tadi dia melihat kita?”

Tania tidak menggeleng pun mengangguk, perempuan itu hanya tersenyum tipis sambil memeluk mesra pinggang Sam.

********

2 KOMENTAR

  1. Wah 👍👍👍👍👍

    Ini terinspirasi dari kisah nyata dilihat dari alur ceritanya bang…. ???

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.