Asuransi Jiwasraya

Perusahaan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) saat ini tengah menghadapi tekanan likuiditas. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, yakni sekitar Rp 802 miliar yang telah jatuh tempo pada 1 Oktober 2018 lalu. Pembayaran polis asuransi tersebut dipasarkan melalui tujuh bank mitra (bancassurance), antara lain PT Bank Tabungan Negara, Bank ANZ, Bank QNB, PT Bank Rakyat Indonesia, Bank KEB Hana, Bank Victoria dan Standard Chartered Indonesia.

Persoalan tersebut diduga akibat anjloknya nilai investasi. Dari data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Jiwasraya diketahui memiliki saham sekitar Rp 1,03 triliun di PT PP Properti Tbk per 1 Januari 2018. Namun pada 10 Oktober lalu, nilai saham di perusahaan berkode PPRO itu anjlok sebesar Rp 473,21 miliar, menjadi hanya sejumlah Rp 556,7 miliar.

Hal serupa dialami Jiwasraya pada saham PT Semen Baturaja Tbk. Semula, per 1 Januari 2018 saham di perusahaan dengan kode SMBR itu sebesar Rp3,46 triliun, namun pada 10 Oktober 2018, nilai saham tersebut turun sebanyak Rp 1,37 triliun menjadi Rp 2,09 triliun.

Direktur Investasi dan Teknologi Jiwasraya, Hexana Tri Sasongko mengatakan bahwa sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perseroan yang telah berdiri sejak tahun 1859 ini, tak bisa mencairkan asetnya di tengah kondisi penurunan nilai saham alias jual rugi (cut loss)

“Sebagai BUMN, kami tidak bisa cut loss,” terang Hexana.

Hexana juga mengungkapkan bahwa dana asuransi jiwa berbalut investasi atau saving plan yang dikelola oleh Jiwasraya, dimasukkan ke dalam pasar saham, pasar modal dan pasar obligasi sebesar 75 persen. Sementara, sisanya masuk ke dalam portofolio investasi properti.

“Dari portofolio dalam produk finansial itu, sebanyak 80 persen berada di pasar saham dan reksadana,” terang Hexana.

Meski demikian, Jiwasraya tetap berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan likuiditasnya tersebut.dengan membayarkan bunga kepada 1.286 pemegang polis senilai Rp 96,58 miliar pada Senin (15/10).

Tak hanya itu, pihak manajemen juga menawarkan win-win solution kepada para pemegang polis. Ada dua solusi yang ditawarkan. Mulai dari skema roll over atau memperpanjang masa investasinya dengan bunga roll over sebesar 7 persen, hingga pemberian bunga pengembangan efektif sebesar 5,75 persen bagi yang tidak bersedia roll over.

“Manajemen Jiwasraya berkomitmen menyelesaikan kewajiban pada pemegang polis secara menyeluruh yang dilakukan secara bertahap dan dalam tenggang waktu yang tidak terlalu lama. Kami juga melakukan komunikasi intens dengan berbagai pihak untuk menyelesaikan kewajiban ini,” ungkap Direktur Utama Jiwasraya, Asmawi Syam, dalam keterangan tertulis di Jakarta, seperti tertulis dalam laman Merdeka.com.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.