Selama ini, masyarakat awam pada umumnya menganggap koperasi itu adalah kegiatan simpan pinjam saja dan hanya berskala mikro saja. Malah ada seorang ustad yang identikkan koperasi dengan kegiatan rentenir atau riba. Koperasi bahkan jadi judul lagu yang menggelikan, semisal “Koperasi datang, tante menghilang” karena takut ditagih. Ini gambaran bahwa masyarakat kita memang banyak yang tidak tahu koperasi dan cenderung mengidentikkan koperasi sebagai kegiatan yang buruk dan bahkan dikategorikan haram. 

Untuk itu perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut : 

1. Koperasi kita itu  musti di-rebrandingRebrandingyang paling baik adalah dengan memperbaiki internal koperasi. Positioningvs Repositioning: kecil vs besar, lemah vs kuat, kerdil vs konglomerasi, simpinvs semua sektor, unfashionedvs fashionable, tua vs muda. Ini yang justru pokok. Bukan cuma sekedar ganti logo atau judul.

2. Koperasi musti diberikan tempat yang setara secara regulasi. Saat ini masih banyak yang mengunci perkembangan koperasi dan unfriendlyalias tidak bersahabat terhadap koperasi.  Contoh: UU Penanaman Modal, UU Rumah Sakit, UU Pajak, UU BUMN, UU BI, UU Perbankkan, UU sektoral lainnya. Malah ada regulasi yang secara massif mendiskriminasikan koperasi: Permendes tentang BUMDes yang wajibkan BUMDes berbadan hukum Persero. Ini tentu harus dibongkar semua. Harus ada reformasi secara regulasi.

Regulasi koperasi sendiri mesti diganti segera. Pemerintah juga harus menghapus regulasi yang menyalahi prinsipself regulate-nya koperasi dan menghambat koperasi. Contohnya: soal keanggotaan, permodalan, dan lain sebagainya. Kita semuah harus mencontoh negara lain, dimana koperasi itu berkembang di seluruh sektor karena diberikan peluang yang sama dan tidak didiskriminasi.

3. Dalam background studyuntuk menyusun kebijakan dan renstra pengembangan kebijakan koperasi, pemerintah harus jelas. Harus ada statementyang kuat tentang Reformasi Total Koperasi. Sudah benar Kementerian Koperasi dan UKM melakukan REFORMASI TOTAL, tapi semestinya memasukkan pernyataan itu (karena tidak ada di RPJM). Kuncinya ada di kebijakan, regulasi dan institusi. Kalau tidak mencerminkan ini semua maka jangan harap koperasi akan menjadi aktor ekonomi mainstream

4. Koperasi di Indonesia itu ibarat putri cantik atau pangeran ganteng yang selalu dielu-elukan, tapi hanya ada di dalam dunia ilusi. Sebab sebagai ilmu pengetahuan, koperasi tidak banyak diajarkan di kampus. Sehingga para intelektual yang diharapkan dapat membantu mencari solusi kegagalan kita dalam membangun koperasi, tidak muncul. 

Kita tidak hanya defisit koperasi yang baik, tapi defisit pakar. Biasanya mereka yang mengaku pakar ekonomi atau koperasi komentarnya soal koperasi selalu mentok. Koperasi dinilai kurang melakukan pemasaran, kurang modal, kurang SDM, kurang teknologi. Lalu solusinya pasti linier sekali, semacam obat lama. Diberikan diklat, bantuan modal, diberikan bantuan teknologi. 

Hasilnya dari tahun ke tahun sama karena tidak menyentuh aspek substansialnya. Soal organisasinya, regulasi agar mampu memunculkan ekosistem yang baik bagi pertumbuhan koperasi. 

5. Paling mendasar lagi, kalau kita ingin membangun koperasi maka masyarakat mesti bergerak bersama untuk membangun koperasi di seluruh sektor. Bangun koperasi di seluruh sektor sebagai kebutuhan. Mulai saja dari apa-apa yang tidak bisa dikerjakan sendiri, dikerjakan bersama melalui koperasi. 

6. Kalau Pemerintah mau membuat gebrakan, sebetulnya sederhana saja. Cobalah koperasikan satu saja BUMN dari 119 BUMN yang sudah jadi Perseroan. Terutama, seperti PLN. Maka masyarakat akan mudah sekali untuk memahami koperasi dan membedakan koperasi dengan non koperasi. Sebagai informasi, listrik di Amerika itu dimiliki pelanggannya dan dikontrol langsung melalui koperasi seperti NRECA. Kenapa kita tidak bisa melakukannya? 

7. Hakekat koperasi itu adalah bagaimana memposisikan manusia lebih tinggi kedudukannya dibanding modal. Modal itu hanya alat bantu bukan sebagai penentu seperti dalam model perusahaan korporat kapitalis yang hanya bertujuan mengejar keuntungan. Beda paling nyata adalah orang dalam koperasi itu menentukan keputusanya di koperasi dengan hak suara yang sama. Walaupun dalam investasi dan manfaat ekonomi nantinya akan berbeda-beda.

8. Koperasi itu juga akan hidup apabila pengetahuan masyarakat tentang demokrasi ekonominya itu juga baik. Semestinya karena demokrasi ekonomi itu adalah sistem ekonomi sesuai konstitusi kita, maka seharusnya  Koperasi dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional. Jangan hanya mengajarkan sistem ekonomi kapitalis. Apa itu sistem demokrasi ekonomi, prakteknya bagaimana, dan lain sebagaimana, semuanya harus diajarkan. 

9. Koperasi itu adalah sebuah jalan bagi kita untuk meraih keadilan ekonomi. Jadi ini saya kira jadi perintah semua agama. Perintah konstitusi dan harapan kebutuhan masyarakat banyak adalah agar ekonomi tidak menjadi menindas dan memeras. Nah, saya kira masyarakat harus dibangkitkan untuk membangun koperasi seperti ini. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.