“Mantan adalah orang yang sudah membuat bahagia saat mengenal cinta, sekaligus membuat sakit karena ditinggalkan”– hal.1

Ketika mendengar kata mantan mungkin banyak orang akan malas membahasnya dan cenderung mengalihkannya ke topik pembicaraan lain. Bahkan tak jarang juga, dua orang yang sudah berstatus mantan akan saling bersikap saling tidak mengenal. Namun, beda halnya dengan kisah Aga dan Fara di novel Mantan (2018) karya Siti Umrotun.

Novel Mantan ini menceritakan soal Fara yang diputuskan begitu saja oleh Aga di malam minggu. Keputusan secara sepihak itu benar-benar membuat Fara sakit hati dan galau setengah mati. Bagaimana tidak, hari-hari sebelumnya hubungan mereka sangat baik tetapi malam sebelum kencan Aga dengan entengnya memutuskan Fara. Tetapi sebagai perempuan, Fara tidak mau terlihat lemah sehingga dia pun meladeni keinginan Aga dan ingin menunjukkan jika dirinya bisa move on.

Kabar putusnya Aga dan Fara menyebar dengan cepat di media sosial dan sekolah. Ledekan-ledekan mulai dilontarkan teman-teman sekelas Fara. Namun anehnya, bukannya menjauh seperti orang kebanyakan, Aga justru semakin mendekati dan menggombali Fara setelah status mereka menjadi mantan. Bahkan setiap hari cowok itu selalu melempar gombalan dan obral kode keras yang berujung membuat Fara baper, meleleh dan susah move onLalu apa sebenarnya tujuan Aga menarik ulur perasaan Fara? Bisakah Fara move on dari Aga?

“Hal manis yang pernah kita lewati emang udah selayaknya kita kenang, tapi bukan berarti kita harus memaksa itu semua terulang kembali”– hal.128

Novel Teen Fictionterbitan Bentang Belia memang selalu memiliki cover buku cantik, simpel dan manis. Contohnya, novel Mantan ini. Hanya dengan ilustrasi kertas foto yang dirobek menjadi dua, itu sudah cukup menggambarkan isi dari novel ini sendiri. Selain itu, ilustrasi dua tokoh utama di dalamnya pun menjadi poin plus untuk novel Mantan.

Penulis begitu cerdik dalam menarik perhatian pembaca dengan langsung memberikan konflik di halaman utama. Meskipun konfliknya sangat sederhana, penulis berhasil mengeksekusi cerita dari awal hingga akhir, dengan baik dan menarik. Menambahkan bumbu-bumbu komedi dan hal-hal kekinian semakin membuat novel ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan sasaran pembaca remaja, Siti Umrotun sangat berhasil menghadirkan sosok Aga yang menjadi idola para perempuan di dunia fiksi. 

Menggunakan sudut pandang orang ketiga merupakan keputusan yang tepat, sebab pembaca dapat mengetahui isi hati dan pikiran dari para tokohnya. Penulis menggunakan alur maju dan kalimat-kalimat yang sangat ringan juga kekinian. Beberapa kali bahkan dimunculkan ilustrasi-ilustrasi postinganInstagram Aga dan Fara yang semakin menambah keseruan novel ini. 

Novel bergenre komedi-romantis ini memang tidak hanya menampilkan keromantisan dua sejoli Aga dan Fara saja, tetapi ada pula celetukan-celetukan konyol dari teman-teman sekelas Fara dan Aga yang sangat menggelitik. 

Penulis memang sangat piawai dalam menggambarkan sifat setiap tokohnya. Semua sisi remaja sangat kental terasa di dalam novel ini. Hanya saja, sifat Aga yang labil dan terus menarik ulur perasaan Fara terlihat sangat menyebalkan. Aga benar-benar seperti mempermainkan Fara sebagai seorang perempuan. Apalagi, ketika pembaca menginjak lembar-lembar akhir dan mengetahui alasan Aga memutuskan Fara yang benar-benar konyol dan menyebalkan.

Meski novel ini terkesan menampilkan kelabilan seorang remaja, tetapi ada juga sisi positif dari para tokohnya yang dapat dicontoh. Misalnya, pembaca dapat mencontoh sikap Aga yang berani bertanggung-jawab. Lalu setelah menyelami kisah Aga-Fara pun, pembaca diharapkan tidak mempermainkan perasaan siapapun. Sebab, tindakan asal menguji-coba kesetiaan seseorang dengan hal-hal konyol, bisa menimbulkan penyesalan yang tak berujung hingga akhir hayat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.