Kenaikan Suku Bunga Acuan Sebesar 25 Basis Poin

0

Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen setelah keputusan Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (17/5) lalu. BI beralasan kebijakan tersebut ditempuh sebagai bagian dari bauran kebijakan BI untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah berlanjutnya peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia dan penurunan likuiditas global.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan kenaikan tersebut dilakukan agar koreksi rupiah tak berdampak pada inflasi. Dan, selanjutnya justru tak membuat rupiah kembali lagi melemah.

“BI ingin meyakini adanya depresiasi ataupun ekspektasi depresiasi yang dapat menimbulkan resiko kepada inflasi, dan kita tidak ingin depresiasi ini berdampak kepada inflasi dan akhirnya kembali berdampak pada inflasi,” ujar Agus seperti dikutip dari kompas.com.

Agus pun menyebut kenaikan suku bunga acuan tersebut sudah mempertimbangkan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang berada pada rentang 5,1 hingga 5,5 persen. Terlebih, pada saat yang sama, defisit transaksi berjalan semester I 2018 juga masih cukup tinggi, sebesar 5,5 dolar AS atau 2,1 persen dari PDB.

Meskipun demikian, nilai tukar rupiah rupanya belum kunjung membaik. Sejak dinaikkannya BI-7DRR hingga tulisan ini diturunkan, mata uang garuda masih terus terkoreksi. Senin (21/5) siang, rupiah tercatat sudah berada pada level Rp 14.197 per dolar.

Padahal, sejak September 2017, BI-7DRR tak mengalami kenaikan. Selama 8 bulan terakhir, BI berhasil menjaga suku bunga acuan pada level 4,25 persen.

Sebelum berubah nama menjadi BI-7DRR, suku bunga acuan menggunakan BI Rate. Angka BI rate tertinggi tercatat terjadi di bulan Desember 2005, yakni sebesar 12,75 persen. Kebijakan tersebut ditempuh BI untuk merespon tingginya angka inflasi yang mencapai 1,31 persen pada bulan November sebelumnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) Suprajarto mengaku belum akan menaikkan tingkat suku bunga kredit. Dirinya beralasan mayoritas kredit BRI berada pada segmen kredit mikro dan kredit bersubsidi. Untuk menjaga bunga kredit agar tidak naik, BRI justru lebih memilih melakukan efisiensi dan menekan tingkat Non-Performing Loan (NPL).

“Kami berusaha tidak naik. Berbagai macam cara bisa dilakukan yang pasti kita sudah punya pipeline. Sebetulnya bunga naik itu kalau NPL tinggi, dan kami banyak di mikro relatif tidak terpengaruh dengan kurs dan sebagainya,” kata Suprajarto, Selasa pekan lalu.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.