Kecelakaan Proyek dan Nasib Saham Waskita

0

Kecelakaan proyek jalan tol yang sedang digarap PT. Waskita Karya (Persero) kembali terjadi lagi, Selasa (20/2) dini hari tadi di dekat Gerbang Tol Kebon Nanas, Jakarta Timur. Besi penyangga cetakan cor kepala tiang beton atau Bekistieng pier head yang sedianya akan digunakan untuk pembangunan proyek jalan tol Becakayu, ambruk hingga menyebabkan 7 orang mengalami luka-luka.

Peristiwa ini menambah panjang daftar proyek tol Waskita yang mengalami kecelakaan. Dikutip dari detik.com, terhitung sejak September tahun lalu, sudah ada 5 proyek tol yang memiliki insiden kecelakaan. Antara lain, kecelakaan badan jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) yang terjadi pada 22 September 2017, Jembatan Beton (Girder) proyek tol Pasuruan-Probolinggo yang roboh 29 Oktober tahun lalu, konstruksi Girder proyek pembangunan Jalan Tol Pemalang – Batang ambruk pada 30 Desember, serta Girder yang kembali jatuh pada 2 Januari lalu di tol Depok – Antasari.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menyebut kecelakaan proyek yang marak akibat perencanaan yang tidak dilakukan secara matang. Selain tentunya, menurut Tulus, karena pengawasan yang tidak dilakukan secara ketat.

“Kecelakaan konstruksi terhadap proyek infrastruktur yang terjadi secara beruntun, dengan puluhan korban melayang, membuktikan hal itu. Kecelakaan konstruksi sebagian terbukti karena kegagalan konstruksi (construction failure),” ujar Tulus dalam keterangan tertulisnya, Selasa siang.

Tak ayal, imbas hal tersebut, saham Waskita yang memiliki kode WSKT anjlok. Hingga Jum’at (23/2) siang, saham Waskita yang memasuki hari keempat koreksi pada minggu ini, bahkan sudah turun sebanyak 8,68 persen ke level Rp 2.840 per lembar saham.

Analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji mengatakan koreksi harga yang terjadi pada saham Waskita memang dipengaruhi insiden kecelakaan proyek tol Becakayu. Namun demikian, Nafan Aji berpendapat koreksi tersebut hanya berlaku secara temporer. “Secara teknikal, pada daily chart, memang terlihat koreksi wajar. Ini juga terkait dengan koreksi IHSG yang sebelumnya naik sangat signifikan,” ujar dia.

Merespon hal itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara semua proyek infrastruktur jalan layang (elevated). Keputusan tersebut dipilihnya lantaran mempertimbangkan banyaknya kecelakaan kerja  yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

“Pengawasan terhadap (pembangunan) infrastruktur, terutama yang konstruksinya di atas (layang) memerlukan pengawasan lebih ketat dan rutin. Ini pekerjaan detail, tidak mungkin diawasi sambil lalu. Pekerjaan normal atau cepat, semuanya butuh manajemen kontrol yang detail,” ujar Presiden di Istana Negara, Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.