“Nyata itu ketika aku mencabut pisau dari dada Bara sehingga mengucurkan darah yang membasahi kausnya.”– hal.123

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Katarsis (Psi) cara pengobatan orang yg berpenyakit saraf denganmembiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas; (Sas) kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.

Ini tentang Tara Johandi, gadis berusia 18 tahun yang menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya, di Bandung. Semua anggota keluarga di rumah itu tewas akibat pembunuhan keji, sementara Tara ditemukan mengenaskan di dalam kotak perkakas kayu. Gadis itu mengalami trauma hebat akibat kejadian yang menimpanya.

Polisi mulai menyelidiki dan mencari tahu sang pelaku pembunuhan melalui Tara. Tetapi usahanya selalu sia-sia, Tara tidak pernah mau membicarakan hal itu lagi. Baginya, semua itu terlalu menyeramkan. Lalu, polisi meminta bantuan Alfons (psikiater Tara) untuk membuat gadis itu mau menceritakan semuanya agar sang pelaku dapat segera ditemukan. 

Selama penyelidikan berlangsung, satu demi satu petunjuk justru mulai menunjukkan kejanggalan yang tidak biasa. Terlebih ketika kemunculan Ello (teman kecil Tara), semuanya semakin abu-abu. Bersamaan dengan kemunculan Ello, kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu yang dipakai untuk menyekap Tara kembali meluas. Satu per satu kematian kembali menghampiri. Lantas apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?Dan, apakah semua pembunuhan ini berhubungan juga dengan Ello?

WOW, GILA, KEREN ! Tiga kata untuk menggambarkan novel genre psikologi thriller karya penulis lokal ini. Sebenarnya novel ini sudah diterbitkan beberapa tahun silam, tetapi pada tahun 2019, novel ini kembali cetak ulang dengan cover yang lebih segar dan beberapa perbaikan pada bagian isi. Tentunya karena antusiasme pembaca begitu besar. Selain karena cover cantiknya, genre serta blurb novel ini sangat menarik.

Novel ini bisa dikatakan sangat menarik dan mendebarkan, sebab begitu banyak kejutan serta teka-teki tak terduga yang diberikan penulis di setiap lembarnya. Kejutan-kejutan itulah yang membuat pembaca tidak akan berhenti membaca, dan segera ingin mengetahui akhir dari Katarsis. Terlebih penggunaan sudut pandang orang pertama semakin membuat pembaca hanyut dalam kisah Tara dan Ello.

Cerita semakin seru dan menegangkan ketika masa lalu Tara mulai terkuak satu per satu. Lalu kehadiran Ello pun turut membuat Katarsissemakin luar biasa. Membaca kisah ini membuat pembaca bergidik ngeri sekaligus mual ketika membayangkan kejadian-kejadian tidak manusiawi yang dilakukan para pelaku terhadap korban. Yang menjadi poin plusuntuk novel ini adalah bagaimana penulis bisa menceritakan setiap adegan mengerikan dengan detail namun tetap sesuai dengan porsinya.

Penulis sangat berhasil mengeksekusi cerita dengan baik. Mulai dari gaya bercerita yang santai dan sangat mengalir, penokohan yang sangat kuat dan konsisten, alur, konflik dan penyelesaian yang di luar dugaan. 

Hanya saja penggunaan sudut pandang orang pertama yang melalui Tara dan Ello terkesan tidak terlalu matang. Sebab, hampir tidak ada ciri-ciri khusus untuk membedakannya. Sehingga ketika sedang membaca, Pembaca sedikit kebingungan karena suara keduanya terkesan sama. Lalu, ada beberapa bagian yang masih belum dijelaskan dengan pasti, seperti penyebab yang membuat Tara mengidap gangguan psikologi. Di buku ini dijelaskan bahwa sejak kecil Tara memang berbeda, tetapi penulis tidak menjelaskan apa penyebabnya. Apalagi jika melihat kedua orang tua Tara yang terlihat “normal”.

Namun terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, novel ini tetap luar biasa dan sangat menarik untuk dibaca. Terutama untuk kamu penyuka genre thriller.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.