KARSO

0

“Indahnya,” gumam Karso sambil mengamati seorang wanita melintas berjalan kaki di jembatan Raden Saleh. Wanita itu mengenakan kemeja putih dibalut blajer serta rok kencang sebatas lutut. Betis-betis putih milik wanita itu nyaris beradu setiap kali kakinya bergerak maju. Dan, “Astagafirullahaladzim,” ucap Karso kali ini dengan nada lebih terdengar. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah yang lain sembari mengusap mata dan mengusap dada.

“Mudah-mudahan pahala puasaku tak berkurang,” kata Karso kembali dengan bergumam. Sejak pagi, tak ada yang lain selain Karso di sungai itu. Lelaki itu tak punya teman bercengkerama sambil bekerja seperti di hari biasa. Di bulan puasa, para pengumpul plastik lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau mencari aktifitas lain yang lebih kering dan jauh dari air.

Mungkin karena tak ada teman itulah, maka setiap kali ada yang bergerak melintas dengan perlahan-lahan di jembatan, ia merasa terusik dan akan mengalihkan pandangannya. Termasuk wanita yang baru saja melintas.

“Tapi karya Tuhan memang luar biasa,” kali ini ia mengucapkannya dengan menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa kecil.

Hari ini Karso memakai kemeja oranye-nya yang sebenarnya tak lagi berwarna oranye. Mungkin karena usia kemeja itu sudah tua atau mungkin karena terlalu sering dipakai dan jarang dicuci sehingga warnanya lebih terlihat merah kehitaman. Sementara di bagian bawah, ia mengenakan celana potong yang robek di bagian pantat dan di bagian paha serta penuh bercak lumpur. Ia juga memakai topi dari jerami yang berlubang tepat di bagian ubun-ubunnya. Meski sudah berlubang, topi itu yang setiap hari menyelamatkan wajahnya dari sengatan terik matahari.

Karso sudah menjadi penghuni sungai itu sejak lima tahun lalu. Di hari-hari biasa, Karso dan tiga temannya mengumpulkan sampah plastik yang dibuang sembarangan. Semakin banyak sampah, semakin banyak rejeki.  Begitu prinsip Karso.

Pernah suatu waktu, Karso dan teman sepekerjaannya bernama Sarap berdebat soal sampah di sungai itu. Karso menasehati Sarap yang terus mengumpat. Menurut Sarap, yang membuang sampah ke sungai adalah orang yang tak mengerti kebersihan dan bukan orang-orang berpendidikan.

“Mereka lah penyebab banjir, penyebab penyakit, kampret, orang kaya tapi gak tahu diri, mending seperti kita, pahlawan yang membersihkan sungai dari sampah plastik,”

“Kau ini kok aneh lah Sarap,”

“Apa yang aneh? Aku mengatakannya karena benar Karso,”

Lah, trus kalau gak ada sampah di sungai ini, kamu mau ngutip apa? Mau jual apa? trus kalau gak ada yang dikutip untuk dijual, kamu mau beli makan pakai apa?” kata Karso.

Dan sejak perdebatan itu, Sarap akhirnya tak pernah lagi menganggap sampah sebagai musibah. Dan sejak saat itu juga, setiap kali ia melihat orang buang sampah ke sungai, Sarap melempar senyum lebar.

Karso menarik ban dalam bekas yang selalu ia bawa mengumpulkan plastik di sungai. Agar ban itu tak hanyut, ia mengikatnya dengan tali dan menambatkannya di bagian pinggang. Ban itu hanya akan mengapung-ngapung di permukaan sungai.

Ada lima karung yang terikat di pinggiran ban. Semua terisi penuh plastik. Tapi masih ada lima karung lagi yang masih terlipat di tengah ban. Biasanya Karso hanya membawa lima karung kosong saja. Tapi sejak awal puasa, ia sengaja membawa karung lebih banyak dari biasanya. Plastik akan berlimpah sementara pengumpul hanya ia sendiri.

Karso kemudian menaiki ban itu. Ia berpindah tempat dengan memanfaatkan ban yang mengapung mengikuti arus sungai yang landai. Sekitar lima ratus meter, ia turun lagi ke dalam sungai. Ada batang pohon besar di tepian sungai, dan karenanya sampah menjadi menumpuk.

Tangannya mulai merogoh-rogoh dasar sungai mencari botol plastik yang mungkin sudah terpendam di lumpur. Permukaan sungai nyaris menyentuh bibirnya dan hanya sebagian dagunya yang sedikit terbenam.

Sementara matanya yang semula memandang kosong, kini melihat dengan serius. Ia melihat gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di bantaran sungai yang pondasinya sedikit meluber ke badan sungai.

Gedung itu se-ingatannya sudah berdiri sejak ia menceburkan diri ke dalam sungai mencari plastik.

Sebenarnya tak ada yang aneh dengan gedung itu dan tingkap-tingkapnya. Tapi kini Karso sudah berdiri walau matanya bergerak-gerak seperti mencari-cari sesuatu. Ia membuka topinya agar bisa menggaruk kepalanya. Ia berusaha mengingat perdebatannya dengan seorang supir truk sehari sebelum puasa. Ia dan supir truk itu sedang duduk-duduk di warung kopi tak jauh dari gedung yang sama yang sekarang sedang ia amati.

“Nah, kamuflase kemiskinan kota, akhirnya kata itu,” Karso mengucapkannya dengan tertawa kecil. Ia benar-benar girang menyebutkan kata-kata itu.

Dan tiba-tiba entah karena apa, Karso kemudian melambaikan kedua tangannya yang masih basah ke arah gedung. Ia merasakan sebuah keseruan dengan melambai-lambaikan tangan. Dan, ia masih tertawa-tawa kecil.

Setelah melambai-lambaikan tangan, Karso menyeka wajahnya dengan lengan kemeja oranye-nya. Ia tiba-tiba terpaku terpaku. Sesuatu di benaknya kembali melintas. Kemeja oranye itu punya cerita sendiri dalam hidupnya. Kisah saat menjadi juru parkir di kota itu sebelum razia menggusurnya dari jalanan yang sempat ia kuasai.

Malam itu, Karso sempat melawan dan berusaha melarikan diri. Ia terlambat beberapa detik. Dua orang petugas berhasil mencekalnya–mengangkutnya dan melemparnya ke dalam jeruji besi. Hanya dua malam Karso mendekam, tapi benar-benar membuatnya insaf bekerja sembarangan dan hanya mengandalkan wajah seram, tato di punggung, tangan dan lengan.

“Kau tak boleh lagi ngutip parkir liar ya! Sekali lagi kau kutangkap, gak akan ada ampun, kau akan kukenakan pasal Pungli,” bentak seorang petugas menasehatinya.

“Ya pak. Yang penting aku tidak Pungli, aku tidak mengemis, pantang buatku,” tekad Karso dihadapan petugas.

“Ya bagus itu, carilah pekerjaan yang halal, yang penting jangan pungli, jangan rampok,” sahut petugas.

Tapi setelah malam itu, Karso benar-benar sibuk memikirkan kata-kata Pungli yang diucapkan petugas. Dan ia baru mengetahui arti pungli setelah sebulan ia dilepaskan petugas itu. Karso pun semakin membulatkan tekad memutuskan jadi orang baik saja meski harus menjadi pemulung.

***

Langit mulai terlihat remang-remang suram dan sebentar lagi akan padam. Lampu-lampu di gedung bertingkap tinggi di pinggir sungai satu persatu mulai hidup. Senja mulai datang. Karso melihat lagi karung-karungnya yang terikat di ban. Jumlah karung yang terisi tak berubah, hanya lima karung. Hari ini waktunya lebih banyak berfikir daripada bekerja.

“Cukuplah itu dulu,” gumam Karso.

Karso kemudian melompat lagi ke atas ban. Ia mendayung berbalik arah melawan arus sungai yang landai. Di bawah jembatan Karso berhenti. Ia mengikat tali ban-nya di batang besi cor yang mencuat dari retakan dinding dam sungai. Ia memungut karung-karungnya satu persatu dan buru-buru membawanya. Tak lama lagi waktu berbuka puasa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.