Judul: Geigi | Penulis: Sirhayani | Penerbit: Bentang Belia

Sebagian besar, khususnya remaja yang duduk di bangku SMA mungkin sudah pernah merasakan manis-pahitnya pacaran atau jatuh cinta pada lawan jenis. Namun sayangnya, keadaan itu tak dialami Geigi. Gadis 16 tahun yang senang di-cepol dan cuek itu sama sekali belum pernah merasakan sensasi jatuh cinta. 

Perceraian kedua orangtuanya lah yang membuat Geigi takut untuk membuka hati dan menaruh rasa suka pada seorang cowok. Bahkan, sekadar memiliki teman dekat laki-laki saja, Geigi tidak punya. Geigi terlalu takut untuk memiliki hubungan dengan laki-laki.

Hingga suatu hari, Rumi—sahabat Geigi—yang gemas dengan kepolosan sahabatnya itu mencoba mengenalkan Geigi pada Dirgam. Semula respons Dirgam sangat cuek dan dingin, tetapi lambat laun cowok yang juga peserta olimpiade komputer perwakilan SMA Nusa Cendekia itu, mulai bisa menerima uluran pertemanan Geigi.

Seiring berjalannya waktu, Dirgam dan Geigi pun kian dekat. Keduanya kerap bertukar sapa ketika bertemu di sekolah, berkirim pesan dan sesekali berangkat bersama ke sekolah. Lalu, ketika Geigi sedikit bisa belajar membuka hati, datanglah sosok Mars yang mampu membuat dirinya tak karuan. Kehadiran Mars dan Dirgma mampu membuat gadis itu mengubah persepsinya terhadap seorang laki-laki.

Hingga pada suatu momen, Geigi benar-benar bimbang dan tidak tahu harus berbuat apa. Antara memilih Dirgam atau Mars. Lantas siapa yang akan Geigi pilih? Dirgam atau Mars? Atau justru Geigi tidak memilih salah satu diantara keduanya?

“Meskipun lo takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang bikin perasaan lo nggak enak kedepannya, tapi lo juga musti belajar dari sana. Segalanya itu nggak selalu harus dihindarin.”– hal.210

Yap, cerita teen fiction berjudul GEIGI (2018) ini memang sangat-sangat sederhana dan ringan. Namun di balik konflik sederhana, penulis dapat membawakan cerita ini dengan menyenangkan, menyentuh, dan tidak membosankan. Terlebih kehadiran tiga tokoh yang benar-benar menarik perhatian pembaca sejak awal. Geigi yang sangat berbeda dengan cewek seusianya, sungguh sukses menarik perhatian melalui karakter yang digambarkan.

Lembar demi lembar pembaca akan dibuat bertanya-tanya, menebak-nebak perihal siapa yang akan dipilih oleh Geigi pada akhirnya. Penulis memang sedikit memberikan teka-teki agar pembaca terus bertahan sampai akhir cerita. Dan teknik ini, memang benar-benar bekerja dalam membuat pembaca tidak menutup buku sampai halaman akhir.

Menggunakan sudut pandang orang pertama, novel berhasil membawa pembaca ikut terhanyut akan apa yang Geigi rasakan dan ceritakan. Terlebih, tokoh-tokoh yang terdapat di dalam buku ini memang sangat hidup, memiliki ciri khas tersendiri, dan perkembangan karakter yang baik.

Alur yang runtut membuat cerita semakin menarik untuk diikuti. Apalagi dalam novel ini tidak hanya menghadirkan konflik tentang Geigi yang takut memulai jatuh cinta, melainkan ada pula konflik tentang keluarga dan persahabatan. 

Percayalah, novel ini tidak hanya membahas mengenai masalah cinta segitiga yang rumit. Geigi mengajarkan kepada pembaca tentang arti memaafkan, kasih sayang, dan juga harapan. Dari Geigi, pembaca juga dapat belajar bahwa anak broken home pun bisa memiliki prestasi gemilang seperti Geigi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.