Judul: Falling Domino | Penulis: Afy Zia | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ini tentang Dirga yang hobi berulah, melanggar peraturan sekolah, dan membenci banyak hal. Dia membenci Bram karena cowok itu telah merusak Fia (mantan pacarnya). Dia benci Rafi karena selalu membuatnya terngiang akan masa lalu yang menyebalkan. Bahkan dia pun benci papanya karena pria itu tak pernah ada untuknya. Hingga suatu saat ketika Dirga melakukan tawuran dengan Bram, dia terpaksa mendekam di penjara selama satu bulan dan pindah sekolah ke SMA Mulia Bangsa.

Alih-alih mendapat suasana baru, di sekolah barunya Dirga justru mendapat kejutan yang tak kalah memuakkan. Mulai dari sekelas dengan Rafi yang selalu membuatnya naik pitam dan bertemu cewek super bawel penyuka cokelat bernama Alana. Mulai hari itu, Dirga merasa bahwa hidupnya benar-benar semakin menyebalkan. Terlebih ketika mengetahui jika papanya akan menikah lagi, Dirga merasa kebahagiaan sungguh telah pergi dari hidupnya.

“Dunia bakal lebih indah kalau kamu tersenyum. Nenek nggak tahu apa masalahmu saat ini, tapi jangan biarin kesedihanmu mengambil alih kebahagiaanmu. Kamu pasti punya banyak memori indah untuk diingat, bukan?”– hal. 60

Namun, ada satu hal yang membuat Dirga masih bertahan di sekolah barunya. Sepak bola. Ya, di sana ada ekskulyang tidak pernah ditemuinya di sekolah-sekolah sebelumnya. Dan menariknya, salah satu teman mengajaknya bergabung menjadi anggota inti The Fabllers. Dirga senang bukan main, karena menjadi anggota sepak bola merupakan salah satu cita-citanya. Namun apakah rentetan peristiwa akan menuntun Dirga menjadi pribadi yang lebih baik? Atau justru sebaliknya?

Falling Domino (2019) merupakan novel debut mahasiswi Sastra Indonesia, Afy Zia yang juga dikenal sebagai Bookstagrammer Indonesia. Sebelumnya Afy sempat mengikutsertakan naskah ini dalam lomba Gramedia Writing Project (GWP) batch3, dua tahun lalu. Namun sayang, naskahnya tidak lolos. Tetapi setelah melakukan revisi berulang kali, naskah Falling Domino dinyatakan layak terbit.

Untuk ukuran novel debut, Afy cukup berhasil menarik minat pembaca melalui Falling Domino. Terlebih isu-isu yang diangkat dalam novel ini memang sangat dekat dengan kehidupan para remaja zaman sekarang. Sehingga pembaca pun turut merasakan keresahan yang dialami para tokoh. Jika ditilik lebih lanjut, novel ini agak kurang tepat mendapat label TeenLit. Sebab konflik-konflik yang ada justru cukup rumit dan lebih menjurus pada genre YA (Young Adult)

Pada bagian awal memang tidak banyak informasi yang disampaikan mengenai alasan mengapa Dirga begitu sering membuat onar, mengapa Dirga begitu membenci Rafi, dan mengapa Dirga mengubur cita-citanya menjadi seorang pemain sepak bola. Semua jawaban akan terkuak secara perlahan pada bab menuju akhir. 

Salah satu poin plus Falling Domino adalah kemampuan Afy yang begitu terampil membuat benang merah diantara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Hanya saja, penulis memang tampak kurang mengeksplorasi tokoh Fia di dalam cerita ini.

Permainan diksi yang indah dan sesuai porsinya membuat novel ini begitu mudah dipahami dalam sekali baca. Hanya saja pada bagian awal, latar waktunya agak sedikit membingungkan. Namun lambat laun, seiring dengan lembar yang terus dibaca, latar waktunya semakin jelas. 

Poin plus lain untuk novel ini adalah bagaimana Afy begitu sukses memainkan emosi pembaca sejak halaman awal hingga akhir. Tidak ada kata yang membosankan selama membacanya. Apalagi dialog-dialognya pun juga sangat kekinian. Pembaca dapat merasakan setiap emosi yang disampaikan. Tidak hanya mengangkat konflik percintaan, tetapi ada pula konflik keluarga, persahabatan dan juga kenakalan remaja. 

Usai menyelami kisah Dirga ini, pembaca diajak untuk belajar berdamai dengan masa lalu dan menyikapi setiap masalah dengan dewasa, serta tetap memperjuangkan cita-cita yang dimiliki meski peluang yang ada mungkin sangatlah kecil.  

“ … menurut gue cita-cita itu milik siapa aja. Nggak ada batasan siapa yang pantas dan siapa yang nggak pantas untuk punya cita-cita. Selama lo punya keinginan kuat untuk merealisasikannya, di situ pasti ada jalan.”– hal. 131 

Novel ini cocok untuk kamu penyuka cerita remaja yang nggak melulu membahas kisah romansa lebay. Karena terdapat konflik yang cukup rumit dan dinamika pergaulan bebas, novel ini direkomendasikan untuk kamu yang sudah berumur 17 tahun keatas. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.