Hujan diluar masih menderas, padahal sudah setengah jam lebih air langit itu turun. Aku pun masih sama seperti sebelum hujan itu turun, duduk di sebuah cafe sambil mengaduk cappucino tanpa menyentuhnya sama sekali. 

Sebelum datang ke tempat ini, aku sudah lebih dahulu menikmati kopi buatan Emak, perempuan yang kini penglihatannya mulai kabur. Pun dengan ingatannya. Kata orang, ketika orang tua menua itu akan merepotkan sebab ia akan kembali seperti kanak-kanak. Tetapi untukku, menuanya Emak tidak merepotkan sama sekali, justru aku semakin menyayanginya. 

Dari balik jendela cafe ini aku bisa melihat para pengendara motor yang tengah berteduh disebuah ruko pinggir jalan yang sedang tutup. Tentu saja tutup, sekarang baru pukul dua siang, sedang ruko yang menjual makanan itu baru buka sekitar pukul lima sore, dan tutup kembali pukul tiga pagi. Jangan heran kenapa aku bisa hafal begitu, dulu ketika umurku belum genap enam belas tahun, aku biasa berada di jalanan. 

Jika kamu berpikir semua itu karena Emak tidak mengurusku dengan baik, maka kamu salah besar. Emak adalah orang paling berjasa dalam hidupku, paling baik dan paling sayang aku. 

“Maaf sudah membuat menunggu, hujan dan jalanan macet”.

Aku melihat lelaki itu sebentar, rambut dan pakaiannya memang terlihat agak basah. Tetapi tentu akan semakin basah jika lelaki itu naik motor. Tapi aku jamin, mana mau lelaki itu naik motor, bagaimana pun kondisinya si lelaki lebih suka mengendarai mobil merahnya. Katanya, biar teman-temannya bisa turut menumpang. 

Ah, omong kosong ! Dua tahun lalu, ketika semua belum terungkap, aku ditolak mentah-mentah ketika diajak Ran, adiknya, untuk menumpang karena rumah kami searah. 

Tanpa dipersilahkan duduk, lelaki bernama Damar mengambil posisi, tepat dihadapanku yang masih membisu. Malas sekali bicara dengan orang model Damar! 

“Mau pesan makan?”

Aku menggeleng tadi. Selain sudah minum kopi, aku juga sudah makan nasi goreng buatan Emak, makanan favoritku. Rasanya mungkin tidak lebih enak dari masakan restoran, namun karena dibuat dengan cinta tentu nasi goreng Emak menjadi spesial.

“Kenapa cuma diaduk? Mungkin kalau didalamnya ada ikan, ikan itu sudah mati,” Damar mencoba mencairkan suasana.

“Mau apa sebenarnya kamu?” Laki-laki memang suka menyebalkan, mengajak bertemu tapi tidak kunjung menyampaikan maksudnya. Duh, aku sudah malas berurusan dengan lelaki model Damar, ya, meski aku tahu maksud Damar berbeda dari laki-laki yang mengajakku bertemu sebelumnya. 

“Apa kamu enggak mau pulang, Ra?” 

“Aku selalu pulang”.

Damar menggeleng, matanya terpejam sejenak, “Bukan ke rumah itu..,”

“Rumahku memang di situ, di rumah Emak,” potongku, sebelum Damar menyelesaikan kalimatnya.

“Mami sakit, Ra” katanya memelas.

“Bawa saja ke dokter, kalian pasti punya uang !” kataku sambil menatap keluar, hujan semakin menderas.

“Mami butuh kamu”.  

Aku menghela nafas berat, sejak kapan perempuan itu butuh aku? Bukankah, aku tidak lebih dari anak tiri yang menyebalkan? Yang dibuang di tengah hujan ketika usiaku belum genap tiga belas tahun. Bukankah, perempuan itu muak terhadapku? Sejak Papa mengalami kebangrutan, sejak ekonomi keluarga memburuk. Sejak aku sering sakit-sakitan dan katanya terlalu menghabiskan banyak uang. Ah, persetan dengan membutuhkanku !

“Ra, aku serius,” Damar mencoba meraih tanganku. Jika diperhatikan, kami seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Aku sebagai perempuan yang sedang merajuk dan Damar sebagai laki-laki yang sedang berusaha memperbaiki keadaan.

“Semoga lekas sembuh atau mungkin lekas mati saja?”

Plak…

Sebuah tamparan mendarat dipipiku. Aku tidak membalas, hanya tersenyum kecut sambil memandangi lelaki berkemeja kotak-kotak itu.

“Sudah bicaranya?” tanyaku datar kemudian bangkit. Damar menatap tajam kearahku. Tatapan memelas sebelumnya, hilang sudah. Padahal belum tiga puluh menit ia duduk bersamaku. Dasar lelaki topeng ! Memangnya aku bodoh, tidak belajar dari masa lalu.

Tanpa menunggu persetujuan Damar, aku keluar dari kafe. Bahkan ketika lelaki itu meneriaki namaku dengan berbagai umpatan, aku tetap berjalan santai saja. Duh, bikin malu saja Mahasiswa yang satu itu ! Untung dia tidak sedang pakai almamater ! 

***

Jam menunjukan pukul empat sore ketika aku sampai di halaman rumah Emak. Hujan sudah reda sejak setengah jam lalu, tepat ketika aku membelah jalan kota dengan sepada kesayangku. Tentu itu menjadi berkah tersendiri bagiku, sebab aku tidak akan terlalu basah ketika sampai di rumah. 

Tabunganku bukannya tidak cukup untuk membeli sepeda motor. Hanya saja, aku rasa itu belum perlu, lebih baik untuk biaya pengobatan Emak. Meski berkali-kali Emak bilang bahwa ia hanya tinggal menunggu dijemput kematian karena usia, namun aku tetap ingin berusaha memperpanjang waktu bersamanya.

“Sudah pulang, Ra” Sambut Emak yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh hangat. Hal yang dari dulu dilakukan Emak sambil menunggu anak semata wayangnya pulang.

“Sudah, Mak” Ucapku sembari mencium takzim pungung tangan Emak yang sudah keriput.

“Habis ketemu Damar?” 

Aku menggeleng. “Dari rumah teman kok, Mak.”

Aku akan tetap di sini sama Emak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.