Puluhan orang berderap-derap di aspal hitam mengkilap yang melesatkan uap minyak dan berpendar. Debu jalanan dipapar terik matahari yang menyengat beterbangan, menyatu dengan uap minyak aspal, lantas menguliti sepatu orang-orang itu.

Mereka semua mengikat kepala dan lengan dengan pita merah dan putih sebagai penanda.  Berjalan cukup panjang dalam barisan yang tak rapi. Barisan terdepan memegang spanduk yang dibentang memboikot jalan, menyebabkan kemacetan yang kacau. Barisan kedua menenteng-nenteng poster. Barisan ter-kiri dan ter-kanan memegang temali pembatas agar tak ada intel dan penyusup yang masuk.

Barisan setelahnya melakukan hal sesuka hati: berteriak-teriak laguh lagah-melemparkan botol air mineral ke atas: berjingkrak-jingkrak tak beraturan. Ada pula barisan lain yang mengiring komplotan barisan-barisan di depan: mereka pengendara sepeda motor dengan suara sangat berisik dan tak mengenakan helm. 

Ada belasan jumlahnya sepeda motor itu. Berboncengan. Setiap 15 meter, dua atau tiga atau empat atau bahkan sepuluh sepeda motor wajib mogok. Lalu, para pembonceng akan serentak gaduh mengengkol dan: bruuuuuuuummm. Asap membumbung lantas mengangkasa dalam aroma minyak yang dibakar.

“Tolong ya dek, motornya didorong saja kalau boleh. Bising,” kata seorang ibu kepada entah siapa di antara belasan pengendara itu.

“Iya, bukan cuma kalian yang punya jalan ini,” teriak seseorang dari kejauhan usai ibu pemberani itu protes. Lantas orang-orang lain menyusul berteriak.

Namun, tak ada yang acuh untuk protes itu. Sepeda motor terus di-gas dan ketika motor mati, mereka tak henti mengengkol-ngengkol pedal hingga mesin hidup. Dan karenanya, asap putih beterbangan kemana saja, menyapa orang-orang; di trotoar, di emperan warung, di angkot, di atas sepeda motornya yang terjebak macet dan di apa saja, sebelum melesat ke awan sebab dihembus angin.

Karena tak diacuhkan, warga penonton itu menggerutu tak karuan. Tapi tetap saja mereka tak berbuat apa-apa, dan hanya menggerutu. Begitu saja.

Kembali ke puluhan orang-orang itu. Di  barisan terdepan, berjalan tiga orang yang masing-masing memegang toa dengan beda warna: merah, biru tua dan kuning. Mereka bertugas sebagai orator. Mereka berteriak-teriak menyampaikan tuntutannya. 

Mereka ribut berapi-api. Sesekali memimpin nyanyian yel-yel; lagu kebangsaan: lagu sindiran; sarkasme, hingga lagu cinta.

“Mengapa lagu cinta woi? Kita tak perlu nyanyian-nyanyian elutif bagi gerakan!” teriak seseorang di antara kerumunan.

“Tenang kawan, cinta tetaplah cinta, dan karena sejatinya kita semua disini karena cinta. Pahamlah,” jawab seorang di antara tiga orang yang memimpin barisan. Dia menggunakan toa.

Beberapa orang yang mengikuti obrolan teriak-teriak itu berbisik-bisik tak terdengar. Ada juga yang senyum, dan ada yang berteriak kecil.

“Cinta ya, ha ha ha,”

***

Ketika asap terus mengepul dipandu suara motor yang memekakkan, puluhan orang-orang itu berhenti di gerbang besar berpagar yang tertutup. Di depan gerbang mereka terkomando membentuk lingkaran. Tiga orang yang tadinya di depan barisan, kini berada di tengah lingkaran. Teriakan mereka tidak berhenti, malah semakin menjadi.

Nyanyian-nyanyian mereka juga semakin ramai. Melompat-lompat, mengibar-ngibarkan bendera dan berteriak-teriak: copot..copot..copot.. turunkan dia.. turunkan dia. Tak lama, sebagian orang keluar lingkaran, berjalan menuju gerbang dan menggoyang-goyangkan pagar.

Puluhan orang berseragam yang tadinya berbaris rapi di belakang gerbang, buru-buru memegang pagar agar guncangan tidak terlalu deras.

“Tenang kawan-kawan, tenang. Kita kemari menyampaikan aspirasi kita. Tapi jika tak ada yang merespon, kita juga punya sikap, punya kekuatan untuk mendobrak ketidakadilan dan penzoliman,” teriak seorang orator.

Gerbang terus diguncang. Petugas terus bertahan dan ditambah jumlahnya. Guncangan akhirnya sedikit mereda. Tapi, orang-orang itu tidak berhenti dan terus berusaha walau kalah jumlah.

“Kami memang sedikit kali ini, tapi kami akan datang lagi dalam jumlah yang tidak akan pernah kalian duga !!!! Kawan-kawan, kita tidak akan menyerah, tetap semangat kawan-kawan, hidup rakyat !!!” teriak orator.

Mendengar itu, orang-orang yang tadinya melingkar seperti mendapat semangat dan dorongan, lalu ikut berhamburan menuju gerbang. Berbaur mengguncang-guncang pagar. Kekuatan mulai berimbang.

Tapi para petugas cadangan masih ada, jumlahnya lebih banyak dari yang sebelumnya berjaga-jaga di gerbang. Mereka berdatangan entah darimana. Memegang kokoh gerbang. Pagar gerbang itu tak lagi berguncang. 

“Kalian digaji dari uang rakyat, jangan halangi kami rakyat yang menuntut hak-hak kami. Yang memimpin gedung ini harus bertanggungjawab, dia harus dicopot. Dan ingat, kalian adalah bagian dari rakyat,”

Orator berteriak semakin deras dan mulai menunjuk-nunjuk wajah para petugas yang memerah padam memendam amarah. 

“Tenang.. tenang semua,” tiba-tiba ada suara dari belakang para petugas.

“Sudah, petugas mundur ke belakang, biar saya yang temui adik-adik ini,”.

Seseorang itu sangat didengar para petugas. Mereka mundur beberapa jarak dari gerbang, namun kembali berbaris rapi: bersiaga.

Pejabat itu tidak datang sendiri, beberapa pejabat lain mendampinginya. Mereka berpakaian rapi, sangat rapi seperti baru pulang dari acara pernikahan.

“Ayo, kami sudah disini. Silahkan sampaikan aspirasi kalian adek-adek,” kata pejabat yang tampak seperti pemimpin pejabat lainnya.

Seperti terkomando, massa yang tadinya beringas mengguncang-guncang gerbang bergerak serentak menjauhi gerbang dan berbaris. Tiga orator di depan. Tak ada lagi yang teriak-teriak atau nyanyi-nyanyi, pun berorasi.

“Yang mana kordinator, dek?” tanya pejabat itu menimpali ucapannya.

“Kami bertiga orator dan kami semua adalah kordinator,” ucap seorang orator.

“Ya sudah, sampaikanlah aspirasinya,”

Satu di antara orator itu maju. Memegang dua lembar kertas, membentangkannya dengan kedua tangannya. Lalu membaca lantang pernyataan sikap. Di akhir pernyataan, orator itu menyebut apresiasi yang tinggi kepada pejabat itu.

“Kami senang bapak hadir di tengah kami, dan bapak layak dianggap pemimpin masyarakat. Tidak seperti bapak pejabat lain yang kita ketahui menjaga jarak dengan rakyat,” ucap orator itu disambut tepuk riuh massa.

“Ini sudah tugas kami adek-adek sekalian. Kalian akan kami ayomi, lindungi dan jaga. Saya senang kalian datang. Itu artinya kalian anggap saya bapak kalian, tempat kalian mengadu,” ujarnya disambut tepuk riuh. Para pejabat lain yang mendampinginya: ada yang bertepuk tangan dan ada yang senyum cabar.

***

Malam tercampak ke pukul nol-nol. Warung kopi segera tutup. Bartender sudah menggantung celemek, kasir menghitung keuntungan dan tiga pelayan pengantar kopi bergegas tutup: berebut meja dan kursi. Kecuali, meja sudut paling kiri.

“Sebentar ya, dek,” ucap seseorang kepada pelayan itu. Dia pejabat tadi siang di depan gerbang. Kali ini ia tak mengenakan jas, melainkan kaos oblong dipadu kemeja berwarna gelap. Ia juga mengenakan topi.

Ia tak duduk sendiri. Dua orang berperawakan muda, menggunakan kaos oblong biasa dan juga mengenakan topi, duduk di depannya. Mereka orator siang tadi.

“Kalian bekerja dengan baik. Kader seperti kalian yang kutunggu-tunggu selama ini, dan kalian pantas mendapatkannya. Tapi, lain kali, bawa massa lebih banyak. Gak ada sulitnya kok. Gampang, kalian bergantunglah ke abang,”.

“Oke bang. Tapi bagaimana menurut abang tadi siang?”

“Bagus, banyak media yang menulis, media sosial juga heboh. Gejolak sudah mulai setelah kalian datang. Nah, minggu depan kalian turun lagi lah. Hari Minggu, kita ketemu lagi,”.

Dua anak muda itu senyum-senyum, sesekali mereka saling pandang.

“Ini untuk hari ini. Kalian, semangatlah. Kalau abang yang duduk, kan kalian juga yang senang,” ujar pejabat itu meletakkan amplop tebal warna coklat.

“Semangat bang,” kata seorang anak muda itu. Lantas, amplop coklat itu diambilnya. Dipukul-pukulkan beberapa kali di telapak tangan kirinya sebelum mengemasnya ke dalam tas ransel yang ia letakkan sedari tadi, tak jauh dari kakinya.

******

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.