Perihal melupakan dan dilupakan memang kerap terjadi di kehidupan sehari-hari. Tetapi, apa jadinya bila seseorang yang kamu sayangi melupakan nama, wajah, dan bahkan segala kenangan saat bersamamu?

Ya, Ellio, siswa kelas 12 yang sangat mencintai dunia fotografi itu mengalami hal tak menyenangkan saat masa-masa terakhir duduk di bangku kelas tiga SMA. Selain harus konsentrasi dengan persiapan Ujian Nasional (UN), dia juga disibukkan dengan persiapan pameran kompetisi foto antara dirinya dan Noah (rival di klub fotografi). Namun tragedi kamera jatuh di tangga, membawa Ellio mengenal Flo, murid baru di kelasnya yang sedikit aneh.

Namun sejak Ellio meminta Flo menjadi objek foto pamerannya, Ellio semakin mengenal Flo dan segala keanehannya. Termasuk diantaranya soal perilaku Flo yang sering melupakan hal-hal sepele, seperti ruang kelas, denah sekolah, dan jalan pulang. Bahkan, tak jarang Flo harus melirik name tagdi seragam temannya untuk sekadar menyapa.

Semakin mengenal cewek itu, Ellio semakin tertarik hingga memutuskan hubungannya dengan Nana. Tetapi hal mengejutkan terjadi ketika Ellio dan Flo menjalin sebuah hubungan. Kejadian itu benar-benar membuat Ellio seperti kehilangan semangat hidup. Lantas apa yang sebenarnya terjadi dengan Flo? Mengapa dia kerap melupakan hal sepele?

“Sebab hidup dengan kenangan menyedihkan lebih baik ketimbang lupa akan semua hal. Seolah-olah kembali serupa kertas putih.”– hal. 235

Novel dengan cover merah dan judul Bingkai Kenangan: yang terlupakan (2018), merupakan novel yang cukup menguras emosi dan membuat pembaca penasaran dengan tokoh Flo. Sebab, di cerita ini, Flo benar-benar berbeda dengan tokoh lainnya. Selain sering melupakan hal-hal sepele, dia pun selalu mencatat semua hal di notesmiliknya. 

Selaku penulis, Seplia tidak main-main dalam melakukan riset. Dunia fotografi yang digemari tokoh utamanya benar-benar dikulik cukup detail. Bahkan pembaca akan mendapat pembelajaran baru seputar dunia fotografi dari buku ini. Lalu, mengenai penyakit yang diderita Flo pun akhirnya dijelaskan dengan cukup baik.

Seplia sangat konsisten dalam menciptakan karakter dan perkembangan setiap tokohnya. Semua tokoh berperan sesuai porsinya. Pun, kehadiran teman-teman Ellio semakin membuat cerita lebih berwarna. Dengan menggunakan alur maju dan sudut pandang orang ketiga, novel ini cukup mengaduk emosi pembacanya. Terlebih ketika Ellio yang tiba-tiba memutuskan Nana dan terkuaknya fakta mengenai alasan mengapa Flo terlihat sangat aneh.

Sejak halaman awal, cerita ini berjalan dengan sangat mengalir. Bahkan konflik-konflik kecil sudah dimunculkan sejak bab awal. Sehingga bisa disimpulkan novel ini tidak bertele-tele dalam penulisannya. Namun sayangnya, saat menginjak halaman terakhir, penyelesaiannya terkesan terlalu tiba-tiba, terburu-buru dan menggantung.

Meski ada beberapa bagian yang sedikit mengganjal, cerita ini tetap bagus karena selain mengangkat kisah romansa anak SMA, begitu banyak ilmu-ilmu baru yang didapat. Sebab, tak hanya membahas perihal percintaan, novel ini pun kental dengan kisah persahabatan yang begitu manis. 

Usai membaca novel ini, pembaca akan mendapat banyak sekali pelajaran hidup, salah satunya harus lebih bisa menghargai kekurangan setiap orang. Tidak mudah menganggap remeh orang lain, serta belajar menerima keadaan, meski kenyataannya memang terlampau pahit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.