Membayar zakat merupakan salah satu bagian dari prinsip utama orang Islam. Dalam Rukun Islam, membayar zakat menempati urutan ketiga setelah mengucap syahadat dan menjalankan sholat. Ada kriteria-kriteria tertentu yang menjadi  penentu, apakah seseorang muslim sudah memiliki kewajiban membayar zakat atau belum. 

Mengutip penjelasan ahli tafsir Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al Misbah (2001), zakat berarti penyucian dan berkembang. Maksudnya, melalui pembayaran zakat, seorang Muslim diajak untuk menyucikan jiwa dengan mengikis sifat tamak, kikir, loba di dalam dirinya. Zakat juga merupakan salah satu bentuk sedekah yang hukumnya wajib bagi yang telah memenuhi syarat

Berbicara tentang zakat profesi, zakat ini adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi bila telah mencapai nishab. Menurut Yusuf Qorodhowi, sangat dianjurkan untuk menghitung zakat dari pendapatan kasar (bruto), untuk lebih menjaga kehati-hatian. Nishab sebesar 5 wasaq /652,8 kilogram gabah atau setara 653 kg beras. Cara Menghitung Nishab: harga beras yang dikonsumsi x 653 kg. Contoh : 10.000 x 653 = Rp 6.530.000. Jika penghasilan sudah mencapai / lebih dari Rp 6.530.000, artinya sudah mencapai nishobdan siapapun menjadi wajib untuk membayar zakatnya.

Lebih jelasnya, menurut Yusuf Qardhawi, perhitungan zakat profesi yaitu: zakat dihitung dari 2,5 persen dari penghasilan kotor (bruto) secara langsung. Misalnya, Seseorang dengan penghasilan Rp 7 juta tiap bulan, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5 persen x Rp 7.000.000 = Rp 175.000 per bulan. 

Menurut Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz dan ulama modern seperti Yusuf Qardhawi, mereka meng-qiyas-kan zakat penghasilan seperti zakat pertanian yang dikeluarkan setiap kali didapatkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.