Sebuah perusahaan rokok asing memasang iklan rokok dengan harga Rp. 12 ribu per bungkus. Ini Iklan rokok kretek, harga rokok kretek. Rokok yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia, budaya indonesia, dan produk asli indonesia. Kini rokok kretek bisa diimpor dari luar megeri, rokok kretek bisa diproduksi di luar negeri oleh perusahaan asing. 

Ini tentu TRAGEDI. Asing sedang mengincar pasar rokok kretek Indonesia, mengincar perusahaan-perusahaan rokok kretek indonesia untuk dibeli, mengincar sektor UKM produsen rokok kretek untuk dihancurkan karena diambil alih pasarnya. Caranya dengan mengacak-acak kebijakan cukai, menekan perusahaan kecil dengan cukai, dan mencekik – menyetarakan dengan perusahaan besar dan asing.

Nilai pasar tembakau Indonesia mencapai Rp. 450 sampai Rp. 500 triliun per tahun. Mungkin hanya 30 persen yang masih dikuasai perusahaan lokal. Ditambah bahan baku hampir 50 persen impor, dengan 30 persen impor dari Tiongkok. Jadi, sebenarnya tinggal sedikit sekali nilai perdagangan tembakau yang tersisa di Indonesia. Bagaimana kalau nanti seluruh produk rokok, termasuk kretek diimpor? Rakyat Indonesia dengan jumlah perokok lebih dari 100 juta orang hanya akan menjadi lahan jarahan asing.

Mengapa ketahanan sub sektor tembakau harus diperjuangkan? Nilai pendapatan negara dari cukai sebesar  Rp. 150 triliun, belum termasuk pajak yang dibayarkan industri. Nilai cukai tembakau setara dengan 3 kali pendapatan sektor ESDM, yakni gabungan sektor migas, mineral dan batubara. Atau setara dengan 15 – 30 puluh kali sumbangan royalti Freeport. Jadi, kalau industri ini jatuh semua ke tangan asing, maka habislah ekonomi Indonesia.

Salamuddin Daeng

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.