Judul: Arya Buaya | Penulis: Nimas Aksan | Penerbit: Elex Media

“Aturan nomer satu, jangan pernah percaya pada apa yang dikatakan seorang lelaki buaya.”

Memiliki wajah tampan di atas rata-rata dan piawai merangkai kalimat semanis madu, memang  menjadi modal besar untuk jadi sebagai seorangplayboy. Pasalnya dengan modal tersebut, siapapun dapat menjerat banyak wanita untuk berada di sampingnya, tanpa susah payah. 

Begitulah Aryadinatha a.k.aArya Buaya, pria tampan yang terkenal playboysejak duduk di bangku sekolah. Sudah banyak perempuan yang menjadi korban, tetapi Dru bukan salah satunya. Wanita pemilik perusahaan jasa desain interior itu sama sekali tidak termakan gombalan Arya. Sebab, Dru memiliki prinsip : Jangan pernah percaya pada kata-kata lelaki buaya.

Sejak SMA hingga kuliah, Dru berhasil tidak pernah jatuh dalam pesona ketampanan Arya. Dia tetap menjalani peran sebagai sahabat sekaligus menjadi pemeran tambahan untuk membantu menyelamatkan karir perbuayaan Arya. Hingga pada suatu ketika, kerikil besar menghampiri hidup Dru. Mulai dari tertangkapnya sang ayah akibat penggelapan dana proyek, hingga perusahaannya yang berada di ambang kehancuran. Bantuan dari Mikail (kekasihnya) tidak berefek besar, dan satu-satunya cara, Dru harus mendapatkan proyek besar dari Melanie (seorang janda pengusaha kaya yang akan membangun hotel di Ubud).

Banyak yang mengatakan jika Melanie sulit diluluhkan oleh orang baru. Jadilah Dru kemudian meminta bantuan pada Arya si buaya untuk merayu Melanie. Dan sejak saat itu, Dru tidak bisa mengelak. Kedekatan dalam usaha mendapatkan proyek ini, membuatnya mendapati sisi lain dalam diri Arya. Apalagi pada saat yang sama, dirinya juga semakin goyah ketika sebuah fakta mengejutkan terkuak secara nyata. Lalu, hal apa yang sebenarnya membuat Dru goyah? Apakah dia akan jatuh dalam pesona Arya?

“Kita nggak bisa memilih kepada siapa kita serahkan hidup kita nanti. Takdir yang memilihkan untuk kita.”– hal. 171

Dalam kisah fiksi terbitan tahun 2018 ini, Aryadinatha memang benar-benar buaya. Penulis sukses membuat pembaca geregetan dan campur aduk melihat tingkah laki-laki yang satu itu. Tidak heran mengapa Dru melabeli Arya sebagai Buaya, karena pada kenyataannya laki-laki itu cocok mendapati julukan tersebut. 

Dalam menggambarkan tokohnya, penulis terbukti sangat sukses. Arya digambarkan dengan sangat kuat dan konsisten. Kalimat-kalimat gombal yang dilontarkan pun tidak terkesan memaksa alias berkelas. Begitu pun dengan tokoh lainnya yang memiliki karakter sangat hidup. Sayang, setiap karakter ini juga memiliki sisi lemah masing-masing.

Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca dapat merasakan bagaimana menjadi seorang Drupadi. Emosi Drupadi dalam novel bahkan bisa tersampaikan dengan baik. 

Pembawaan Nimas dalam menulis setiap narasi juga terlihat sangat luwes. Tidak ada kalimat atau percakapan yang terasa mengganggu. Imbasnya, meski novel ini memiliki ketebalan 454 halaman, membaca terasa tidak membosankan dan melelahkan. Mengapa? Karena di setiap lembarnya selalu ada kejutan. Nimas benar-benar berhasil memainkan setiap kalimat sederhana menjadi istimewa. Meski memang pada halaman-halaman awal alur sempat berjalan lambat, namun semua akan terbayar manakala bacaan menginjak pertengahan halaman hingga selesai.

Konflik-konflik yang diciptakan terlihat rumit, tetapi pengeksekusian akhir cerita sungguh sangat di luar dugaan. Bahkan, jika pembaca terlanjur jatuh dalam pesona Arya, pasti akan tertipu habis-habisan melihat tingkah laku Arya. Namun pada akhir kisah, penulis ternyata memberikan bom kejutan yang cukup membuat pembaca mengumpat. Novel ini cocok untuk kamu, penyuka genre romansa. Meskipun demikian, novel ini memiliki kategori usia usia 17+ yang berarti ada sedikit adegan yang kurang cocok untuk dikonsumsi remaja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.