Aku, Kau dan Kayu Panjang Umur

0
Foto : Pagaralam-online.

Kudengar teriakan memanggil namaku. Teriakan itu membekap di batang-batang pohon basah, lalu menyesap di atas riak air anak sungai di ubun-ubun Gunung Dempo, Palembang. Dan, selanjutnya menggema dari lembah ke lembah mengisi kekosongan. Sementara gelap gulung-menggulung.

Beruntung, rias-rias bintang berkedip kedip walau hanya sedikit. Sementara, Bulan yang bercahaya sekedar, sedang dilingkar cahaya pelangi yang cahayanya juga sekedar–berayun-ayun lalu berpendar di daun-daun teh di lereng gunung. Holly moon sedang manis-manisnya. Teriakan memanggil namaku kembali terdengar.

Sekilas tentang kita: kau adalah pria imajinerku dan aku adalah wanita imajinermu. Kita menjadi rekan sependakian setelah sebelumnya berkenalan melalui facebook sejak setahun lalu, dan bersepakat memendam perasaan yang sama. Kita berasal dari organisasi pecinta alam yang berbeda: karena itu berjanji untuk mendaki gunung bersama adalah pilihan tepat. Pendakian kali ini akan menjadi luar biasa, meski bagi kau dan aku, mendaki adalah hal yang biasa-biasa saja.

Kita bersepakat–tentu lewat pesan facebook atau pesan singkat atau juga obrolan telepon, bahwa November adalah bulan yang tepat untuk menaklukkan Dempo, meski hujan akan lebih sering turun dan bintang serta bulan hanya akan muncul berkelebat seperti bayangan.

Tak ada pendaki lain di pelataran puncak gunung Dempo. Hanya aku dan kau. Ini adalah hari pertama memulai romantisme itu. Kita mendirikan tenda tak jauh dari bibir kawah. Hangat yang berasal dari sembulan-sembulan uap belerang, bergulung-gulung akan melindungi kita dari rasa dingin. Pergumulan sejak di pintu rimba Pagaralam adalah pergumulan terberat sepanjang pengalamanku mendaki lantaran sejak pagi hujan ringan hingga sedang dan sesekali menjadi deras, mengguyur sekujur gunung Dempo.

Sejak mendirikan tenda kita berdua hanya bertahan di dalam–menyelimuti diri dan berbincang ringan soal apa saja, terutama mengulas ulang awal perkenalan singkat berujung kesepakatan mendaki. Menurut kita, perkenalan itu cukup lucu dan kita berdua akan tertawa bersama. Letih tak terelakkan, dan akhirnya kita tertidur setelah tak ada lagi yang menarik untuk dibincangkan.

Saat beranjak senja, rinai akhirnya berhenti. Kabut keabu-abuan bergerak perlahan-lahan entah dari mana. Langit terlihat sedikit lebih cerah, beberapa bintang muncul dan berkedip-kedip. Sementara Bulan juga begitu, mulai bersinar malu-malu.

Aku beranjak keluar tenda dan duduk bersandar di balik batu besar berjarak dua ratus meter. Tapi tak lama gelap yang pekat tiba-tiba begitu cepat merasuk. Di kejauhan hutan, rimbun yang basah tampak berkilau-kilau karena daunnya ditimpa cahaya bulan. Saat itu pula kau akhirnya menemukanku.

“Elva, cukup dingin di luar sini, aku membuatkan kopi untukmu,”

“Cuma untukku kah Doli?”

Ha ha, untukmu dan untukku, dan kalau saja ada yang lain aku pasti juga akan membuatkan untuknya,”

Ah, tak bisakah kau sedikit saja menjadikan ajakan itu menjadi romantis?” jawabku sedikit manja.

Kau tak menjawabku, hanya kembali tertawa kecil dan mengulurkan tangan. Rambutmu yang sepanjang bahu bergerak-gerak diterpa angin. Kendati aku tak dapat melihat wajahmu karena cahaya dari bulan hanya berkelebat. Tapi wajahmu kupastikan berusaha meneduhkanku.

***

Matahari pagi bersinar belum penuh. Sebelas siluet terpapar di langit-langit Timur gunung Dempo, dan merambat pelan-pelan ke segala penjuru. Cahaya itu juga melesat diantara pohon-pohon dan kebun-kebun teh. Aku beranjak keluar tenda. Aku merasa begitu menyenangkan, menikmati jari-jari kakiku yang kaku berubah hangat terkena cahaya pagi.

Aku mendekati bibir kawah dengan berjalan perlahan-lahan–memandangi air yang warnanya biru kehijauan. Pikiranku kemudian merefleksikan alasan-alasan pendakianku kali ini. Impian petualangan pendakian yang terus mengorek-ngorek hasratku serta euforia mengenakan jas apoteker yang resmi kupakai sejak 2012 lalu. Keinginan mengenakannya di puncak gunung berketinggian tiga ribu meter pertamaku adalah sejati-jatinya adalah alasan utama.

Alasan lain adalah menuntaskan imajinasi yang menggetarkanku beberapa bulan ini: lewat facebook, lewat pesan singkat, lewat obrolan-obrolan telepon denganmu. Getaran yang berhasil mengetuk kembali hatiku untuk terbuka agar diisi perasaan-perasaan yang menggelitik.

Aku ingat betul, kemarin malam saat ketibaanku di Palembang, sebatang coklat kuberi untukmu. Simbol ungkapan selamat ulang tahun ke-30 dariku. Kata-kata menggoda dari teman-temanmu membuat wajahku bersemu merah. Coklat itu adalah hadiah pertama yang kuberikan kepada seseorang dari sekian banyak pengejaran imajinasiku.

Hei kau cepat terbangun,” kau mengagetkanku. Aku berpaling melihatmu.

“Cahaya Matahari membangunkanku,”

“Mengapa setelah bertemu, kau lebih sering meninggalkanku,”

“Jangan berlebihan, aku tak jauh,”

Kau tak melanjutkan percakapan itu. Kau berdiri disebelahku di sisi bibir kawah. Tiba-tiba mendadak aku merubah arah pandangan dan membelakangi kawah.

“Mengapa?”

“Apanya?”

“Kau membelakangi kawah,”

“Bukankah berdiri bersisi dan saling menghadap arah yang berbeda adalah sesuatu yang menyenangkan?”

“Maksudmu?”

“Aku menyukai sesuatu yang kontras dan bertolak belakang, menjadikanku berfikir, semoga kau juga begitu, dan banyak orang yang kutemui juga suka sesuatu yang bertolakbelakang”

Hmmmmm,”

“Apakah itu iya?”

Kau tak menjawab. Aku juga tak melanjutkan obrolan itu. Aku mengapit lenganmu dan memejamkan mata. Aku menikmati sesuatu yang begitu menyenangkan. Tapi kupastikan, bagimu sikapku yang tak terduga menimbulkan perasaan yang juga menyenangkan.

“Kau sering melakukannya?”

“Bagian yang mana? Berdiri dengan arah berbeda atau mengapit lengan lelaki?” aku menjawab dan bertanya sekaligus. Aku lalu tertawa kecil.

“Bagian mana yang menyenangkanmu menjawabnya?”

“Beruntung hanya kita berdua di puncak ini,” aku menjawabmu klise.

“Apa kau berharap ada orang lain selain kita berdua?”

“Jangan berfikir macam-macam,”

“Aku tak berfikir macam-macam,”

“Aku menikmati pendakian ini,”

“Terlebih aku,”

Tiba-tiba kita terdiam dan memejamkan mata. Kita merasakan detak jantung lewat lengan yang bersentuhan. Gemuruh terdengar jelas di sisi-sisi kawah melesatkan uap-uap yang menggelembung dan setelahnya hilang dilamat-lamat angin. Rambutmu bergerai-gerai: menyentuh bahu dan sesekali pipiku. Bagiku ini adalah hal kesekian yang menurutku menyenangkan. Berdiri begitu dekat denganmu begitu lama dalam ritme tanpa percakapan.

***

Kau kembali berteriak-teriak memanggil namaku. Padahal hari masih sore. Kau meneriakiku seperti diriku begitu jauh tersesat dan semakin sukar ditemukan. Padahal aku tak jauh: berdiri di sisi utara gunung melihat-lihat pohon mungil Kayu Panjang Umur (KPU) yang kini kian sulit ditemukan di gunung Dempo.

Aku tak menyahut teriakanmu: dan kau terus meneriaki namaku. Aku meyakini tak lama lagi kau akan menemukanku seperti biasa.

“Mengapa kau selalu menghilang?”

“Aku tak jauh, tapi lihatlah KPU ini, hanya ada satu di sisi gunung sebelah sini,”

“Tak heran,”

“Jika punah baru kita akan heran, karena saat itu terjadi, akan banyak yang berteriak mempersalahkan siapa saja, termasuk kita para pendaki,”

“Karenanya jangan mencabutnya,”

“Aku tak berniat mencabutnya,”

“KPU sebentar lagi menjadi dongeng bagi para pendaki,”

“Apakah tak ada advokasi dan seruan?”

“Sudah banyak, tapi tak menghentikan para pemburu, tak setiap waktu mereka bisa diawasi, mungkin mereka beranggapan dengan mencabutnya maka akan ikut panjang umur,”

Gak lucu, katakan saja hanya untuk bukti bahwa sudah sampai puncak Dempo, picik fikiran begitu,”

“Faktanya begitu,”

“Dan kau sendiri tak pernahkah mencabutnya?”

Kau terdiam dan melangkah ke sisi utara dimana kita mendirikan tenda. Aku tak melanjutkan obrolan itu dan hanya melihatmu dari belakang.

***

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II cukup sibuk pagi itu. Aku dan kau berdiri bersebelahan. Kugenggam tanganmu yang bergetar.

“Tanganmu bergetar,”

Ah tidak,”

“Ya, tanganmu bergetar,”

“Hati dan fikiranku yang bergetar,”

“Maksudmu?”

“Ini terlalu cepat,”

“Kita sama-sama tahu akan ada banyak waktu mengulanginya dalam ritme dan tempat yang berbeda?”

“Baiklah,” seperti biasa kau tak mendebatku. Namun tiba-tiba menyodorkan sebuah pot.

“KPU?” tanyaku.

“Ya, seminggu sebelum kedatanganmu aku mendaki sendiri dan mengambil satu untukmu, maafkan aku,”

Aku diantara rasa kecewa dan senang yang datang sekaligus karena kau menurutku berhianat. Tapi bukankah untuk mendapatkan ranting dan mempersembahkannya padaku, kau telah melewati perjalanan berat dan melakukannnya sendiri?.

“Baik, tapi bukan berarti begitu menyenangkan mendapatkan hadiah ini,”

“Kutahu kau akan memaafkanku, percayalah ini baru kulakukan sekali, dan itu karenamu,”

Aku tak menjawab dan melepaskan tanganmu yang semakin bergetar. Aku melangkah ke ruang tunggu bandara. Kudengar kau berteriak kecil di belakangku dan aku menoleh sekali saja untuk melihatmu.

“Akan kujemput rinduku,” katamu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.