Putra sulung Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengaku belum mengetahui namanya yang berada di posisi kedua sebagai cawapres dalam survei Poltracking Indonesia.

Ia mengatakan dirinya tak pernah memedulikan hasil survei elektabilitas sebagai cawapres. Menurut Agus, yang terpenting ia terus terjun ke masyarakat untuk menyiapkan diri. Agus menambahkan, dirinya ingin terus berproses tanpa harus memedulikan survei elektabilitas dari beberapa lembaga survei.

Ia menganggap semua aktivitasnya di daerah akan semakin membekalinya dan menambah kepercayaan dirinya di bidang kepemimpinan.

“Mudah-mudahan keberadaan saya di tengah masyarakat, anak muda juga bisa semakin menyiapkan saya dalam rangka tujuan yang baik,” lanjut dia.

Sebelumnya, hasil survei nasional Poltracking Indonesia menyebutkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai oleh publik sebagai figur yang paling tepat mendampingi Joko Widodo di Pemilu 2019.

Pada simulasi tujuh kandidat calon wakil presiden untuk Jokowi, Gatot menempati posisi teratas dengan 16,4 persen, sedangkan Agus menempel ketat di posisi kedua dengan 16 persen. Adapun kandidat-kandidat cawapres Jokowi turut disimulasikan oleh Poltracking mengingat mantan Gubernur DKI Jakarta itu akan menjadi petahana pada Pemilu 2019.

“Dua kandidat tertinggi ini memiliki gap elektabilitas 0,4 persen,” kata Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR dalam paparannya di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Minggu (26/11/2017).

Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan tak memikirkan hasil sejumlah survei yang menyebut dirinya menjadi calon wakil presiden favorit mendampingi Presiden Jokowi pada Pemilihan Presiden Pilpres 2019 mendatang.

Agus yang kini mulai lebih dikenal dengan inisial AHY itu mengatakan berbagai kegiatan dan kuliah umum yang ia isi di berbagai kampus tak bertujuan untuk mengerek popularitas dan elektabilitas. “Saya ingin berproses sebaik-baiknya tanpa harus memikirkan survei,” kata Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurut AHY, apa yang ia lakukan hanya ingin berkontribusi bagi masyarakat luas. “Seperti hari ini saya diundang menjadi salah satu pembicara seminar kepemudaan, mudah-mudahan keberadaan saya di masyarakat dapat menyiapkan saya dalam tujuan yang baik,” tuturnya.

Gagal dalam putaran pertama Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Nama AHY justru kian diperbincangkan dalam ranah politik nasional. Namanya masuk dalam sejumlah survei tentang pemilihan presiden 2019.

Survei terakhir yang dilakukan oleh lembaga Poltracking Indonesia menunjukkan nama AHY bersaing ketat dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menjadi calon wakil presiden pendamping Jokowi.  AHY hanya berselisih tipis dengan Gatot yang memperoleh 16,4 persen, adapun AHY 16 persen.

Saat disinggung apakah hasil survei itu menjadi modal bagi dirinya untuk menambah kepercayaan dirinya jelang Pilpres 2019, AHY hanya berujar “saya termasuk orang yang selalu percaya diri, dalam arti positif tentunya,” ujarnya.

Ia menuturkan dirinya saat ini ingin terus melengkapi diri agar bisa memahami kompleksitas Indonesia dengan lebih baik. “Saya anggap itu semakin membekali saya untuk terus berkontribusi dengan baik,” katanya.

Teranyar, survei Indo Barometer menempatkan AHY berada di posisi teratas sebagai cawapres jika disandingkan dengan incumbent Joko Widodo. Pasangan Jokowi-AHY, menurut Indo Barometer, diprediksi akan meraup 48,6 persen.

AHY dinilai tinggi jika dipasangkan dengan Jokowi karena berlatar belakang militer. Jokowi disebut membutuhkan kombinasi sipil-militer di Pemilu 2019. Meskipun dalam surveinya, Jenderal Gatot Nurmantyo juga dipasangkan dengan Jokowi, hasilnya masih di bawah AHY. Pasangan Jokowi-Gatot hanya mendapatkan 47,9 persen. Agus memang tengah membangun komunikasi dengan para petinggi partai. Dia kerap bertemu beberapa kali termasuk dengan Jokowi, JK bahkan Prabowo Subianto untuk bicarakan berbagai persoalan. Meski bukan kader Demokrat, Agus berdiri di belakang bendera The Yudhoyono Institute yang ia dirikan pasca kalah dari Pilgub DKI.

Sejumlah banner dan baliho besar juga kerap memampang wajah Agus. Bahkan, para kader Demokrat tak sungkan memasang foto Agus disampingnya dengan tulisan the next leader. Banner dan baliho itu kerap ditemui di sejumlah tempat di Jakarta, Bogor, Surabaya, Pati dan kota besar lainnya, seperti nampak pada gambar.

AHY kini menang tengah melakukan safari politik ke berbagai penjuru Tanah Air. Termasuk, mengunjungi korban bencana longsor dan banjir di Pacitan Jawa Timur. Bersama keluarganya, AHY membantu korban banjir di kota kelahiran sang ayah tersebut.

“Mudah-mudahan lancar Pak, kami doakan semoga agar pulih kembali, warga bisa kembali ke rumah. Semoga sukses Pak ya, sampaikan salam juga untuk keluarga dan Pak Sultan,” pesan AHY saat mampir ke Bantul, Yogyakarta.

Kendati didukung oleh Sang ayah dan Demokratnya, Agus Harimurti Yudhoyono, mengatakan ayahnya tidak pernah mendesak dia matang sebelum waktunya di dunia politik. Namun, kata dia, SBY selalu memupuknya sebagai tunas baru dalam dunia politik.

“Bapak selalu mengatakan, ‘Gus, kamu harus punya timeline sendiri’. Beliau tidak memaksakan saya tumbuh dengan rekayasa sehingga besar sebelum waktunya,” kata Agus, di The Yudhoyono Institute, Jalan Wijaya 1 Nomor 11A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat, 8 Desember 2017.

AHY menambahkan, SBY tidak pernah menyiapkan dirinya sebagai pengganti di Demokrat. “Tidak ada pembicaraan kamu harus gantikan saya dan sebagainya. Partai Demokrat membuka kesempatan untuk semua,” tuturnya.

Partai Demokrat, yang dipimpin SBY, mengusung AHY maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta pada 2017. Agus meninggalkan 16 tahun kariernya di militer dan lompat pagar ke dunia politik.

Langkah Agus maju dalam pilkada membuat popularitasnya meroket. Hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga cukup mengagetkan. Sebab, sebagai pendatang baru, elektabilitas AHY kini cukup menjadi modal untuk maju pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Survei Indo Barometer bahkan menyimpulkan Joko Widodo (Jokowi) memiliki elektabilitas tertinggi jika disandingkan dengan AHY pada pilpres 2019. Modal inilah yang membuat Partai Demokrat, menurut Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarif Hasan, kian optimistis mengusung AHY sebagai capres atau cawapres dalam pilpres mendatang.

Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menilai SBY memiliki pertimbangan yang cerdas dalam politik. “SBY lihai memainkan ayunan politik, ahli strategi, dan paham betul dengan dinamika global strategic environment,” ucapnya.

Pangi menilai, pilkada DKI lalu menjadi momentum SBY menyerahkan masa depan Demokrat ke tangan anaknya. Sebab, setelah SBY, belum ada sosok yang bisa menggantikannya di Demokrat. Pangi mengatakan keputusan SBY mengubur mimpi AHY menjadi jenderal bukan tanpa risiko.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis Komentar
Nama

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.